Di Antara Gebyar Award


Konon, di negeri yang gemar rapat dan lebih gemar lagi menghadiri seremoni, tumbuh satu industri yang tak pernah muncul di data BPS: industri pembuatan penghargaan. Para penyelenggara award ini sudah begitu produktif sampai-sampai layak disebut award fabrics—pabrik gelar yang memintal, menggunting, dan memoles label “terbaik” seperti konveksi yang memproduksi seragam sekolah. Setiap tahun, model gelarnya berganti, temanya berubah, kategorinya bertambah, dan jumlah pemenangnya meluas seperti lahan parkir minimarket. Kalau tahun ini ada 150 kategori, tahun depan bisa 200. Rupanya logikanya sederhana: semakin banyak kategori, semakin banyak pemenang; semakin banyak pemenang, semakin banyak yang merasa penting; semakin banyak yang merasa penting, semakin ramailah acara. Itulah ekonomi panggung berbasis gengsi.


Di atas panggung, para pemenang tersenyum. Di balik panggung, para produsen penghargaan menghitung peluang bisnis. Kadang saya membayangkan, jika industri tekstil pernah berjaya di negeri ini, mungkin industri award akan menjadi kejayaan berikutnya. Seragam sekolah sudah banyak pesaingnya; tetapi gelar? Ah, itu pasarnya tidak terbatas. Tinggal bikin kategori baru, selesai. Bahkan, jika mau, penyelenggara bisa menambahkan kategori “Program Pemberdayaan Terunik yang Tidak Pernah Diulang Lagi.”


Yang membuat satir ini semakin kaya gizi adalah kenyataan bahwa program-program yang dapat penghargaan seharusnya adalah program unggulan—yang matang, berkelanjutan, terbukti berdampak, dan layak diduplikasi oleh lembaga lain. Tapi kenyataannya seperti melihat kalender: tiap tahun desainnya baru, temanya baru, gambarnya baru, dan isinya—tidak ada kesinambungan. Program A dapat award tahun ini; tahun depan menghilang, digantikan Program B yang sepintas tampak lebih gemerlap, meskipun mustahil ditemukan jejaknya setelah acara penutupan. Program-program ini seperti kembang api: menyala terang lima detik di langit malam, lalu padam tanpa sisa. Kalau ada masyarakat bertanya, “Lalu apa yang kami rasakan setelah award tersebut?”, panitia mungkin menjawab, “Yang penting fotonya bagus, Bu.”


Padahal program yang mendapat penghargaan seharusnya menjadi contoh: blueprint yang bisa direplikasi di 50 desa lain, model pemberdayaan yang terbukti menurunkan kemiskinan, skema intervensi yang makin besar skalanya dari tahun ke tahun. Bukan justru program kecil-kecilan yang muncul tiba-tiba, menghilang tiba-tiba, dan hanya hidup di slide PowerPoint serta feed Instagram lembaga. Lebih lucu lagi, banyak lembaga justru punya kecenderungan rutin mengganti nama program setiap tahun. Mungkin biar terlihat baru, biar terlihat kreatif, atau biar mudah ikut kategori penghargaan yang berbeda-beda. Yang penting ada kata-kata futuristik—smart, digital, empowerment, ekosistem, atau kalau perlu tambah bahasa Arab sedikit biar terdengar syariah. Seakan indikator keberhasilan bukan pada dampaknya, tetapi pada panjangnya nama program.


Di lapangan, mustahik tidak pernah ditanya apakah program itu memberi manfaat. Yang penting juri terkesan. Yang penting foto dokumentasi rapi. Yang penting proposalnya tampak seperti produk brand consulting. Dan yang paling penting, panitia bisa menyatakan bahwa “kompetisi tahun ini sangat ketat,” padahal hampir semua peserta menang. Kalau pabrik tekstil bisa memproduksi seribu baju dalam sehari, award fabrics bisa memproduksi seribu gelar dalam satu malam penuh tepuk tangan.


Dulu zakat adalah soal keberlanjutan. Bahkan Umar bin Abdul Aziz pun menekankan kelanjutan dan peningkatan manfaat. Tapi di negeri ini, program zakat yang berkelanjutan sepertinya hanya satu: keberlanjutan mengirim delegasi ke acara award setiap tahun. Sementara di kampung, ayam yang diberikan sebagai bagian dari program pemberdayaan sudah lama dimakan, kelompok usaha bersama bubar, dan modal usaha menguap tanpa jejak. Tidak ada scale-up, tidak ada peningkatan kapasitas, tidak ada kelanjutan program—kecuali kelanjutan membuat laporan untuk dipamerkan dalam nominasi penghargaan berikutnya.


Pada akhirnya, saya khawatir ada satu pergeseran paradigma yang cukup mendasar: banyak lembaga tidak lagi mengelola program untuk masyarakat, tetapi mengelola program agar dapat mengikuti award. Sudah seperti sinetron Ramadan, yang penting setiap tahun ada judul baru, pemain baru, dan poster baru. Ceritanya? Ah, itu urusan nanti.


Tetapi, seperti kata Pak Jusuf Kalla, yang suaranya sering lebih jernih dari mikrofon acara award, “Di negeri ini, semua hal dibicarakan… kecuali hal-hal yang penting.” Yang penting sebenarnya bukan pialanya, melainkan masyarakatnya. Yang penting bukan nama programnya, melainkan hidup siapa yang berubah. Yang penting bukan kategorinya, melainkan keberlanjutannya. Tetapi tampaknya di negeri kita, kilau panggung lebih memikat daripada ketahanan program.


Kalau suatu hari ada penghargaan “Program Pemberdayaan Paling Berkelanjutan,” saya yakin yang hadir hanya sedikit. Dan mungkin, untuk pertama kalinya dalam sejarah award fabrics, barulah penghargaan itu benar-benar punya makna.

Comments