Dalam tulisannya, pak Otto Scharmer menggambarkan tiga kemungkinan masa depan. Pertama, kita terus mengeruk sumber daya tanpa batas, sampai akhirnya menuju kehancuran. Kedua, kita terus bertengkar dan saling menyerang tanpa pernah mengubah akar masalahnya — capek tapi tidak ke mana-mana. Ketiga, kita membangun contoh-contoh kecil dari cara hidup yang berbeda, dan pelan-pelan contoh itu menular ke sistem yang lebih besar.
Beliau kasih dua contoh yang setengah berhasil. Sekolah rakyat di Denmark punya sistem yang kuat dan bertahan lama, tapi tidak pernah jadi gerakan besar dunia. Konferensi Asia Afrika di Bandung tahun 1955 punya semangat besar dan momentum kuat, tapi tidak punya sistem yang bertahan lama sesudahnya. Keduanya sama-sama belum lengkap. Kita butuh dua-duanya sekaligus: sistem yang kuat, dan semangat yang menular.
Saya menyebut logika ini "dari ember ke jaringan pipa," dan menurut saya ini berlaku juga untuk urusan filantropi.
Ember itu bantuan sesaat: penting, tapi habis begitu dipakai. Contohnya, memberi makan orang yang lapar hari ini, memberi uang tunai untuk kebutuhan mendesak, atau menyumbang saat ada bencana. Semua itu perlu, tidak ada yang salah dengannya.
Tapi jaringan pipa itu berbeda: sesuatu yang terus mengalir dan menghasilkan manfaat baru dari waktu ke waktu. Contohnya, bukan sekadar memberi ikan, tapi membangun kolam yang bisa terus dipanen. Bukan sekadar membayar utang seseorang, tapi membantu dia punya keterampilan atau usaha yang bisa menopang dirinya sendiri seterusnya.
Kita sering terjebak cuma menggunakan ember, karena hasilnya cepat terlihat dan mudah dilaporkan. Membangun jaringan pipa itu lambat, butuh kesabaran, dan hasilnya baru terlihat bertahun-tahun kemudian. Tapi itulah yang benar-benar mengubah keadaan dalam jangka panjang — baik untuk sebuah keluarga, sebuah komunitas, atau sebuah bangsa.
Yang terpenting, kita tidak perlu menunggu seluruh sistem berubah sekaligus. Cukup mulai dari satu contoh kecil yang benar-benar berhasil dan bisa dipercaya orang lain. Dari situ, contoh itu bisa menular. Saya rasa di sinilah banyak niat baik untuk perubahan sering gagal — bukan karena visinya salah, tapi karena terburu-buru memperbesar skala sebelum punya satu contoh kecil yang benar-benar terbukti jalan.
Lanjut ke bagian berikutnya: pertanyaan yang menurut pak Otto paling penting di alam semesta — dan bagaimana itu ternyata mirip dengan hadits yang sudah lama saya pegang.
#DariEmberKePipa #TheoryU
Comments
Post a Comment