Saya masih ingat teman-teman di masa kuliah yang rela menempuh perjalanan jauh ke lapak buku loakan, - Jakartq, Bandung atau Yogya, memburu judul yang tak tersedia di perpustakaan umum. Mereka adalah arsitek dari rasa ingin tahu mereka sendiri. Namun ada juga kelompok lain—mereka yang memandang membaca sebagai beban, kewajiban yang harus diselesaikan dengan upaya minimal. Fotokopi catatan teman.
Waktu terus bergulir, tembok perpustakaan berganti cahaya putih Google, lalu kotak dialog AI. Dan di sinilah saya menemukan sesuatu yang menggelisahkan: teknologi tidak membuat manusia makin setara kemampuannya. Ia justru menguatkan perbedaan yang sudah ada.
Sosiolog Robert K. Merton menyebutnya Matthew Effect—diambil dari Injil Matius, “siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi lebih lagi.” Dalam ekosistem pengetahuan digital, prinsip ini bermutasi menjadi semacam hukum besi: mereka yang sudah memiliki modal disiplin diri, kebiasaan membaca, dan kerangka berpikir kritis menemukan bahwa AI adalah pengganda kekuatan. Sebaliknya, bagi yang tidak memiliki modal itu, teknologi ini menjadi bantal empuk kemalasan intelektual.
Penelitian Betsy Sparrow di Columbia (2011) menunjukkan bahwa manusia cenderung tidak menghafal informasi itu sendiri, melainkan di mana informasi bisa ditemukan. Bagi pencari pengetahuan yang gigih, ini pembebasan—otak dapat dialokasikan untuk sintesis dan kreasi.
Namun bagi yang malas, ini menjadi dalih untuk berhenti berpikir sama sekali. Studi Erik Brynjolfsson (2023) memperkuat pola ini: AI meningkatkan produktivitas hingga 40 persen, tetapi peningkatan paling signifikan terjadi pada mereka yang sudah memiliki kompetensi untuk mengevaluasi hasil kerja AI. Jika inputnya keingintahuan mendalam, outputnya wawasan revolusioner. Jika inputnya kepasifan, outputnya ilusi kompetensi.
Yang terjadi kini adalah seleksi alam intelektual yang dipercepat. Mereka yang dulu rela berjalan jauh ke toko buku menggunakan AI sebagai asisten riset yang tak pernah tidur—menantang argumennya, meminta sumber primer, melakukan sintesis perspektif yang bertentangan. Tulisan-tulisan mereka semakin bernas karena sumber-sumber yang bisa diminta untuk menyediakan bahan pembelajaran terbaik.
Sebaliknya, mereka yang dulu menghindari perpustakaan kini menerima halusinasi AI sebagai fakta, karena usaha memverifikasi terasa terlalu berat dibanding kemudahan jawaban instan. Mereka yang dulu tidak terbiasa membaca (dan menulis), tiba-tiba bisa dan rajin menulis setiap hari. Tulisannya seperti ditulis oleh seorang ilusionis.
Ini membawa pada kesimpulan pahit: “demokrasi informasi” yang dijanjikan tidak menjamin pemerataan intelektualitas. Akses setara terhadap AI tidak menghasilkan hasil pemikiran yang setara. Kemampuan navigasi, filtrasi, dan sintesis justru menjadi mata uang yang makin langka.
Namun sifat manusia itu plastis. Ini bukan vonis mati—ini peringatan. Jika kita menanamkan kembali kesediaan mengajukan pertanyaan sulit, memverifikasi, dan menantang hasil AI, jurang itu bisa dipersempit. Pada akhirnya, alat-alat ini tidak membuat kita lebih pintar atau lebih bodoh. Mereka hanya membuat kita lebih memahami siapa kita sebenarnya.

Comments
Post a Comment