Saya sudah lama mencari kata yang pas untuk menjelaskan ini — dari belajar meditasi Zen di Kamakura Jepang, pendeta Thick Nath Hanh di Paris sampai ajaran Gede Prama di Tajun, Bali Utara. Dan sebenarnya, dalam ibadah kita sendiri sudah ada istilahnya: khusyu'.
Kalimat pak Otto ini, menurut saya, adalah penjelasan paling pas tentang khusyu' yang pernah saya baca — padahal ditulis orang yang mungkin tidak pernah membuka kitab fikih sama sekali.
Khusyu' itu bukan menutup diri dari dunia. Kalau kita cuma "mematikan" semua indra, itu bukan khusyu', itu cuma jenis gangguan lain — kita mengira mati rasa sebagai kedalaman spiritual. Khusyu' juga bukan membiarkan pikiran melayang ke mana-mana tanpa arah.
Khusyu' itu seperti napas: kita hadir penuh ke dalam diri, tapi tetap terhubung dengan sekitar. Nabi menjelaskan ihsan sebagai menyembah Allah seolah kita melihat-Nya — bukan menutup mata dari dunia untuk bisa "melihat" Allah, tapi justru melihat dunia dengan cara yang berbeda karena kesadaran itu.
Ini penting, bukan cuma untuk urusan pribadi. Kalau perhatian bersama ini memang jadi "napas" masyarakat, maka setiap lembaga yang mengaku melayani umat punya tanggung jawab yang lebih dalam dari sekadar menjalankan program. Program filantropi bukan cuma soal menyalurkan bantuan. Kalau dijalankan dengan benar, program itu juga jadi tempat latihan bagi masyarakat untuk benar-benar hadir satu sama lain — bukan saling menutup diri, tapi juga bukan larut tanpa batas.
Saya rasa selama ini kita jarang mengukur hal seperti ini. Kita cuma mengukur hasil di atas kertas. Kita jarang bertanya: apakah hubungan antar-manusianya jadi lebih sehat?
Lanjut ke bagian berikutnya: bagaimana caranya membangun contoh nyata dalam skala kecil dulu — dan kenapa kami menyebutnya "dari ember ke pipa."
#Khusyu #TheoryU

Comments
Post a Comment