Ada idiom yang terdengar sangat modern: kerja cerdas. Biasanya muncul di seminar-seminar mahal, lengkap dengan slide warna-warni dan pembicara yang yakin sekali bahwa kecerdasan itu bisa ditransfer lewat pointer laser. Sayangnya, ketika masuk urusan bencana, kita justru mempraktikkan lawannya: ‘kerja bodoh’ berjamaah—sebuah tradisi tahunan, lestari, dan penuh semangat gotong-royong yang entah mengapa sangat sulit ditinggalkan.
Padahal, riset sudah berteriak-teriak dari balik jurnal ilmiah: sebagian besar bencana alam di dunia itu disebabkan oleh ulah kita sendiri. Antropogenik, begitu istilah kerennya. Artinya, bukan semata-mata gunungnya yang marah, bukan airnya yang dendam, bukan tanahnya yang manja. Tetapi manusianya yang merasa paling pintar, lalu membangun rumah di badan sungai sambil berkata, “Tenang, sudah puluhan tahun aman.” Ya, seperti orang yang makan gorengan tiap hari dan mengklaim sehat karena belum pingsan. Menjarah hutan lindung, menggali tambang seenak perut, adalah itu hal lumrah di negeri ini.
Namun, apa yang kita lakukan? Kita lebih memilih ‘kerja bodoh’—menunggu bencana datang dulu sambil menyiapkan dana kedaruratan, baru kemudian sibuk seperti semut merah tersiram air panas. Begitu bencana terjadi, semua orang tampil. Media tampil. Pejabat tampil. Influencer tampil. Bahkan beberapa orang yang biasanya tidak ada gunanya… tiba-tiba tampil juga. Semua ingin menjadi bagian dari keramaian musiman yang disebut “penanggulangan bencana”.
Dana tak terduga mengalir deras. Relawan berdatangan. Spanduk-spanduk kemanusiaan dipasang di sudut-sudut kota, kadang lebih banyak jumlahnya daripada selimut yang dibawa. Suasana sangat dramatis: drone terbang, kamera berputar, dan semua tampak sibuk. Sebuah panggung megaproduksi yang hanya kalah sedikit dari konser K-Pop.
Sementara itu, pencegahan bencana? Ah, itu kerja senyap, kerja sunyi, kerja yang tidak ada tepuk tangan, tidak ada headline, tidak ada foto sedang menggendong korban banjir. Itu kerja yang tidak bisa diviralkan, karena siapa juga yang mau klik video bertuliskan “Sosialisasi Drainase Berbasis Partisipatif RW 07”? Atau kampanye sedekah pohon? Jadi wajar jika pencegahan dianggap seperti merchandise konser yang tidak laku: ada, tapi tidak dicari.
Kerja pencegahan juga tidak menjanjikan popularitas. Tidak ada pejabat yang bisa berkata dengan bangga, “Tahun ini, tidak ada banjir karena kami bekerja.” Karena publik tidak bisa merasakan bencana yang tidak terjadi. Seperti menjaga kesehatan: kalau Anda berhasil tidak masuk rumah sakit setahun penuh, tidak ada satu pun tetangga yang memuji. Bandingkan dengan orang yang sakit sedikit lalu dapat kunjungan ramai-ramai. Bukannya adil, tapi begitulah manusia.
Dan begitulah kita terus hidup dari siklus satu bencana ke bencana berikutnya, sambil tetap menepuk dada bahwa kita bangsa yang tangguh. Padahal mungkin yang lebih tepat adalah bangsa yang bandel. Sudah tahu penyebabnya, tetap diulang. Sudah tahu solusinya, tetap dihindari. Karena apa serunya mencegah kalau yang kita suka adalah merespons?
Maka setiap tahun, kita menonton kembali drama yang sama: alam menggelengkan kepala, manusia meratap, lalu semua orang mengunggah foto solidaritas. Setelah itu, kembali ke rutinitas semula, sampai bencana berikutnya datang—agar kita punya alasan untuk kerja bodoh lagi dengan penuh semangat.
Kerja cerdas? Oh, tenang saja. Mungkin kita akan sampai ke sana. Suatu hari. Entah kapan. Ketika jalan sunyi pencegahan bencana itu akhirnya kita sadari lebih mulia daripada menjadi pahlawan dadakan lima menit di televisi. Atau—ini lebih mungkin—ketika bencananya sudah terlalu besar untuk direspon, sehingga kita akhirnya dipaksa belajar cerdas oleh alam yang sudah bosan memberi peringatan.
Sampai saat itu tiba, mari kita lanjutkan tradisi lama: sibuk setelah terlambat, berduka setelah abai, dan bekerja dengan penuh emosi… namun minim nalar. ‘Kerja bodoh,’ tapi penuh drama. Sebuah karya besar bangsa.

Comments
Post a Comment