Belajar Lagi di Usia Setengah Abad: Ketika Allah Masih Menganggap Kita Layak Jadi Mahasiswa


Dulu saya berpikir sederhana: jenjang pendidikan itu seperti tangga rumah. Ada S1, lalu S2, lalu S3. Setelah itu selesai. Tinggal duduk di kursi, memberi kuliah, dan sesekali mengernyitkan dahi seolah-olah sedang memikirkan teori besar dunia.

Ternyata saya keliru.


Rupanya tangga pendidikan itu bukan tangga rumah. Ia lebih mirip tangga darurat di gedung tinggi: kita kira sudah sampai lantai terakhir, tahu-tahu masih ada pintu kecil yang mengarah ke tangga berikutnya.


Dan yang lebih mengejutkan, di usia yang sudah melewati separuh abad—usia ketika orang biasanya mulai belajar mengingat nama obat kolesterol—Allah justru masih menakdirkan saya untuk belajar lagi.


Dulu, sekitar tahun 2000, saya pernah mencicipi bangku kuliah di Royal Melbourne Institute of Technology. Waktu itu rasanya sudah cukup mewah: mahasiswa Indonesia belajar di kampus luar negeri. Rasanya seperti sudah menunaikan salah satu kewajiban intelektual dalam hidup.


Saya pikir, ya sudah. Tamat.


Ternyata Allah punya selera humor yang cukup tajam.


Kali ini saya justru mendapat kesempatan duduk kembali di bangku kuliah di kampus yang bahkan sering membuat orang berhenti bernapas sejenak ketika menyebut namanya: Massachusetts Institute of Technology.


Banyak orang bermimpi masuk ke sana. Saya malah datang dengan status yang agak membingungkan: mahasiswa senior yang rambutnya mulai berdamai dengan warna perak.


Tetapi kegembiraan sebenarnya bukan hanya karena nama kampusnya.


Saya akan belajar langsung dari dua tokoh yang selama ini hanya saya temui dalam buku dan video: Otto Scharmer dan Peter Senge.


Bagi orang yang bergelut dengan perubahan organisasi dan kepemimpinan, dua nama ini bukan sekadar akademisi. Mereka adalah arsitek intelektual di balik pengembangan Theory U—sebuah pendekatan yang mengajarkan bahwa perubahan sejati tidak selalu dimulai dari analisis masa lalu, tetapi dari kemampuan merasakan masa depan yang sedang muncul.


Konsep yang mereka sebut presencing.


Belajar dari masa depan yang sedang datang.


Bukan sekadar memperbaiki masa lalu.


Jujur saja, konsep ini cukup menghibur bagi orang seusia saya. Karena jika hidup hanya tentang belajar dari masa lalu, maka orang yang usianya lebih tua otomatis akan selalu merasa paling benar.


Tetapi kalau belajar dari masa depan, semua orang kembali jadi murid.


Termasuk profesor.


Termasuk orang yang sudah punya cucu.


Dalam diam saya juga mulai menyadari sesuatu yang agak satir.


Banyak orang mengira usia lima puluh ke atas adalah masa ketika manusia mulai menjadi “orang bijak”. Wajah tenang, kata-kata pelan, dan nasihat yang terdengar mahal.


Padahal sering kali yang terjadi justru sebaliknya.


Kita hanya menjadi lebih terampil menyembunyikan kebingungan.


Karena itu mungkin Allah masih mengirim kita kembali ke bangku kuliah. Supaya kita tidak terlalu cepat percaya bahwa kita sudah mengerti dunia.


Ada sebuah ironi yang menarik dalam perjalanan ini.


Semakin lama seseorang belajar, semakin banyak yang ia sadari bahwa ia tidak tahu.


Dan semakin banyak yang tidak kita tahu, semakin luas ruang untuk merasa takjub.


Mungkin itulah sebabnya kesempatan ini terasa sangat membahagiakan.


Bukan karena saya kembali menjadi mahasiswa.


Tetapi karena saya diingatkan kembali bahwa hidup ini rupanya belum selesai menjadi ruang belajar.


Selama Allah masih memberi kesempatan untuk belajar, berarti Dia masih percaya bahwa kita belum menjadi manusia yang sepenuhnya beku oleh kepastian.


Dan bagi seorang mahasiswa tua seperti saya, itu kabar yang sangat menggembirakan.


Karena ternyata, bahkan setelah separuh abad hidup,


Allah masih belum menyerah untuk mengajari kita sesuatu yang baru.

Comments