Ada keyakinan lama yang diam-diam saya pegang sejak muda: pendidikan formal itu selesai di ujung gelar doktor. Setelah S3, manusia mestinya berhenti belajar di kampus dan mulai belajar dari kehidupan—yang sering kali lebih kejam dari dosen penguji.
Saya dulu berpikir demikian.
Ternyata Allah punya selera humor yang lebih baik.
Di usia yang sudah melampaui separuh abad—usia ketika orang-orang mulai menimbang kadar gula, adam urat, kolesterol, dan masa pensiun—saya justru kembali menerima undangan untuk menjadi mahasiswa. Bukan mahasiswa nostalgia yang datang ke kampus sekadar mengenang kantin lama, atau membayar tunggakan karena wesel terlambat, melainkan benar-benar duduk lagi, membuka buku lagi, dan mungkin mencatat lagi seperti dulu.
Dua puluh lima tahun yang lalu, sekitar tahun 2000, saya sempat mencicipi bangku kuliah di Royal Melbourne Institute of Technology. Saat itu rasanya seperti petualangan akademik yang cukup untuk satu kehidupan.
Dan saya kira kisah itu sudah selesai.
Ternyata belum.
Kini saya mendapat kesempatan untuk duduk kembali di bangku kuliah di salah satu kampus yang namanya lebih sering muncul dalam film, buku manajemen, atau cerita para ilmuwan: Massachusetts Institute of Technology.
Lebih tidak masuk akal lagi, saya akan belajar langsung dari dua tokoh yang selama ini hanya saya temui di halaman buku dan jurnal ilmiah: Otto Scharmer dan Peter Senge.
Dua nama yang bagi para penggemar perubahan sistemik bukan sekadar akademisi, melainkan semacam arsitek intelektual yang mengajari dunia bahwa organisasi tidak cukup dikelola dengan spreadsheet dan KPI, tetapi juga dengan kesadaran.
Keduanya dikenal sebagai tokoh penting dalam pengembangan Theory U—sebuah kerangka kerja kepemimpinan yang mengajarkan manusia untuk presencing: belajar dari masa depan yang sedang muncul, bukan sekadar dari masa lalu yang sudah selesai.
Konsepnya terdengar sangat futuristik.
Namun kalau dipikir-pikir, ada sedikit ironi.
Selama ini saya membayangkan masa depan yang muncul itu datang dalam bentuk teknologi baru, algoritma baru, atau sistem ekonomi baru.
Ternyata bagi saya pribadi, masa depan yang muncul justru hadir dalam bentuk… tugas kuliah lagi.
Di usia ketika banyak teman sebaya mulai menikmati posisi sebagai “penasihat senior”, saya justru kembali ke posisi paling klasik dalam dunia akademik: mahasiswa yang harus membaca sebelum masuk kelas.
Tetapi ada satu keunikan lain dalam perjalanan ini.
Saya datang ke MIT bukan sekadar sebagai individu yang ingin belajar. Saya hadir sebagai wakil resmi dari lembaga amil zakat yang saya nakhodai: Mandiri Amal Insani.
Jika dipikir-pikir, ini juga agak satir.
Di sebuah kampus yang selama ini identik dengan kecerdasan buatan, teknologi luar angkasa, dan rekayasa genetika, tiba-tiba ada seorang mahasiswa yang membawa “teknologi sosial” yang usianya sudah lebih dari 14 abad: zakat.
Saya tidak tahu pasti, tetapi mungkin ini salah satu momen yang agak langka dalam sejarah kampus itu: seorang amil zakat duduk di ruang kelas MIT.
Bayangkan saja.
Di satu sisi, para ilmuwan MIT sedang sibuk merancang masa depan dunia dengan kecerdasan buatan dan sistem kompleks.
Di sisi lain, saya datang dari dunia yang yakin sepenuh hati bahwa sebagian masalah sosial manusia bisa diselesaikan dengan sesuatu yang jauh lebih sederhana: mendistribusikan kekayaan secara adil.
Kalau dipikir-pikir, ini pertemuan dua gagasan peradaban.
Yang satu lahir dari laboratorium modern.
Yang satu lagi lahir dari wahyu.
Mungkin inilah yang membuat perjalanan ini terasa bukan sekadar pengalaman akademik, tetapi juga pengalaman spiritual.
Sebab pada akhirnya, belajar tidak selalu tentang menambah pengetahuan. Kadang-kadang belajar adalah tentang mempertemukan dua dunia yang selama ini berjalan di jalurnya masing-masing.
Dan siapa tahu, di ruang kelas itu nanti, saya bukan hanya belajar tentang masa depan yang akan muncul (emerging future).
Harapan saya, juga bisa menemukan cara-cara baru agar nilai-nilai lama—seperti zakat, kepedulian sosial, dan keadilan—bisa ikut hadir dalam membangun masa depan itu.
Karena kalau tidak, masa depan yang terlalu canggih bisa saja menjadi sangat pintar, tetapi lupa bagaimana caranya peduli.

Comments
Post a Comment