Catatan seorang pejalan kaki yang baru sadar bahwa ia sedang menelusuri lorong waktu
Hari kedua di Cambridge. Pagi itu saya memutuskan untuk berjalan kaki
Ke bakal kampus kami. Setelah puas berkeliling di Massachusetts Institute of Technology (MIT), waktu masih terlalu pagi untuk tidur lagi di hari Minggu.
Dari MIT ke Harvard. Menyusuri tepian Charles River ke arah barat, ke arah hulu, melawan arah air yang mengalir. Jarak sekitar dua kilometer. Cukup untuk berkeringat sedikit, tapi lebih dari cukup untuk berpikir banyak.
Saya tidak tahu waktu itu bahwa saya sedang melakukan sesuatu yang, kalau dipikir-pikir, cukup simbolik: berjalan dari yang lebih muda ke yang lebih tua. Dari yang lebih gelisah ke yang lebih tenang. Dari institusi yang baru berusia 160 tahun ke institusi yang sudah hampir 400 tahun berdiri dan tampaknya tidak berencana untuk berhenti dalam waktu dekat.
Kalau pakai bahasa pak Otto Scharmer, mungkin saya sedang berjalan dari downloading menuju presencing — dari sistem yang terus memperbarui dirinya ke sistem yang cukup percaya diri untuk diam sejenak.
Tapi saya tidak mau terlalu cepat secara filosofis. Angin sungai di pagi hari cukup dingin untuk menunda segala macam pencerahan.
MIT di pagi hari adalah institusi yang tidak pernah benar-benar tidur.
Tepiannya menghadap sungai dengan gaya yang jujur — tidak ada upaya untuk terlihat cantik lebih dari yang diperlukan. Beton ya beton. Tangga ya tangga. Gedung-gedungnya berdiri dengan percaya diri yang aneh: ada yang tegak seperti rumus yang sudah terbukti, ada yang miring seperti hipotesis yang masih diperdebatkan. Frank Gehry merancang Stata Center seolah ia baru bertengkar dengan penggaris dan memutuskan bahwa garis lurus adalah bentuk kepengecutan intelektual.
Mahasiswanya sudah ada di luar — beberapa duduk di tepian, laptop terbuka, kopi di tangan, rambut dalam kondisi yang menandakan bahwa mereka sudah menyelesaikan setidaknya dua masalah besar sebelum matahari sempat naik sepenuhnya. Seorang mahasiswa berdiri memunggungi sungai, berbicara cepat kepada temannya menggunakan tangan sebagai alat peraga. Saya tidak mendengar isinya, tapi gerak tangannya meyakinkan saya bahwa itu bukan tentang cuaca.
Di MIT, sungai itu adalah latar belakang dari sebuah pertanyaan besar yang selalu berputar di udara: Bagaimana cara kerjanya? Bisa diperbaiki? Kalau diperbaiki, seberapa optimal?
Saya mulai berjalan ke barat.
Perubahannya tidak terjadi sekaligus. Tidak ada papan bertuliskan “Anda meninggalkan zona eksperimen, memasuki zona sejarah.” Pergeserannya halus — seperti perubahan kunci dalam musik yang baru Anda sadari tiga bar kemudian.
Pohon-pohonnya semakin rindang. Bangunan-bangunannya semakin merah bata, semakin tegak, semakin yakin dengan dirinya sendiri. Trotoar yang saya injak terasa seperti sudah pernah diinjak oleh terlalu banyak orang penting sehingga ia sudah tidak perlu membuktikan apa-apa lagi.
Dan sungainya — sungai yang sama, air yang sama — mulai terasa berbeda.
Di sisi MIT tadi, air itu terasa seperti variabel. Di sini, mendekati Harvard, air itu terasa seperti saksi. Sesuatu yang sudah ada sebelum semua gedung ini berdiri, dan mungkin akan tetap mengalir setelah semuanya runtuh.
Harvard di pagi hari adalah institusi yang tahu dirinya tua — dan menikmatinya.
Eliot House berdiri di tepi sungai dengan kubah yang memantulkan cahaya pagi. Pohon-pohon besarnya sudah ada sejak zaman ketika Amerika belum tahu dirinya akan menjadi Amerika. Rumputnya terpotong dengan presisi yang tidak mungkin dilakukan secara sembrono — ada standar di sini, ada ekspektasi, ada tradisi yang tidak tertulis tapi dirasakan oleh semua orang yang menginjak tanahnya.
Dan di sungai, tim crew sedang berlatih. Perahu-perahu ramping meluncur di permukaan air, dayung-dayung turun dan naik dalam irama yang terasa sudah dilatih selama berabad-abad. Gerakannya bukan sekadar olahraga — ini adalah kaligrafi yang ditulis oleh badan manusia di atas permukaan air, tinta tembus pandang yang hilang begitu selesai ditorehkan.
Di Harvard, pertanyaan yang berputar di udara berbeda bunyinya: Apa maknanya? Siapa yang pernah memikirkan ini sebelumnya? Dan apakah kita sudah cukup rendah hati untuk belajar dari mereka?
Saya berhenti. Duduk sebentar di tepi sungai, di suatu titik yang secara geografis sudah masuk kawasan Harvard tapi secara mental masih di tengah perjalanan.
Air mengalir ke timur — ke arah yang baru saja saya tinggalkan. Ke arah MIT. Ke arah hilir. Ke arah muara dan laut.
Saya terus berjalan melawan arah arus air.
Dan saya menyadari sesuatu: ini bukan pertama kalinya manusia berjalan melawan arus untuk mencari sesuatu. Seluruh sejarah peradaban, dalam satu cara pandang, adalah perjalanan ke hulu — mencari sumber, mencari asal, mencari pertanyaan yang lebih dalam dari jawaban yang sudah ada.
MIT di hilir penuh kecepatan — menuju aplikasi, menuju produk, menuju masa depan yang bisa diukur. Harvard di hulu penuh kehati-hatian — menuju akar, menuju makna, menuju pertanyaan yang sudah berusia ratusan tahun dan masih belum selesai dijawab.
Keduanya bergerak. Arahnya sama, nuansanya yang berbeda.
Dan Charles River — dengan bijaknya — mengalir melintasi keduanya tanpa memihak siapapun.
Ada yang menarik tentang Harvard Bridge — jembatan yang berdiri tepat di depan MIT, bukan Harvard, tapi dinamai Harvard. Mahasiswa MIT yang mengukurnya menggunakan satuan buatan mereka sendiri: Smoot, sepanjang tubuh Oliver Smoot yang direbahkan berkali-kali di atas jembatan hingga ujung ke ujung: 364,4 Smoot lebih satu telinga.
Lalu nama jembatan itu tetap Harvard.
Saya menduga mahasiswa MIT sengaja membiarkannya. Memberi nama adalah urusan sejarah. Mengukurnya adalah urusan sains. Mereka sudah mengambil bagian yang lebih menyenangkan.
Dua kilometer. Dua cara melihat dunia. Satu sungai yang tidak peduli dengan keduanya.
Saya berjalan dari hilir ke hulu, dari how menuju why, dari laboratorium menuju perpustakaan besar peradaban. Dan yang saya temukan bukan jawaban — melainkan kesadaran bahwa pertanyaan dari dua institusi itu sebenarnya saling membutuhkan.
How tanpa why adalah mesin tanpa tujuan. Why tanpa how adalah mimpi tanpa kaki.
Peradaban butuh keduanya.
Sebagaimana sungai butuh hulu dan hilir untuk bisa disebut sungai. Saya berdiri dari bangku, merapikan jaket — angin Charles River di pagi hari tidak mengenal basa-basi — dan memutuskan untuk berjalan kembali ke timur, mengikuti arus, pulang ke tempat saya belajar.
Pegal di kedua kaki adalah kenang-kenangan yang paling jujur dari perjalanan itu. Tidak dramatis. Tidak puitis. Tapi nyata.
Dan mungkin, untuk sebuah perjalanan yang mencari kebenaran, itu sudah lebih dari cukup.
Cambridge, Massachusetts, Juni 2026
Ditulis setelah tiba di penginapan, dengan rasa pegal yang terhormat dan jaket yang basah karena keringat
Comments
Post a Comment