Ada satu titik di langit-langit kapel di kawasan MIT itu, yang sengaja dibiarkan bolong. Bukan cacat, bukan kealpaan arsitek—melainkan keputusan yang paling berani dari seluruh rancangan: membiarkan langit masuk tanpa sensor, tanpa kaca patri yang menceritakan kisah siapa pun. Dari lubang bundar itu, cahaya turun menembus untaian logam tipis yang bergantung berjuntai-juntai, seperti hujan yang dibekukan di tengah jatuhnya. Di bawahnya, sebongkah marmer putih berdiri sunyi di atas panggung bertingkat empat—bukan mimbar, bukan mihrab, bukan altar dalam pengertian satu agama. Hanya batu, cahaya, dan keheningan yang dirancang untuk menampung siapa saja yang datang membawa keresahannya sendiri.
Saya duduk di antara kursi-kursi kayu berjajar itu, dan yang pertama terasa bukan kekhusyukan dalam pengertian ritual, melainkan kekhusyukan dalam pengertian ruang. Dinding bata melengkung tanpa sudut, seolah menolak untuk membentuk batas yang tegas antara di dalam dan di luar, antara ruang milik satu keyakinan dan ruang milik semua orang. Eero Saarinen merancang kapel ini bukan untuk mewakili satu agama, tetapi untuk menangkap sesuatu yang lebih purba dari agama itu sendiri: rasa kagum manusia di hadapan Yang Maha Tak Terjangkau. Dan justru karena kosong dari simbol, ruang ini menjadi penuh—setiap orang yang masuk mengisinya dengan hutang cahayanya masing-masing.
Saya kira begitulah cara Tuhan bekerja di ruang-ruang seperti ini. Nur-Nya tidak selalu turun lewat mihrab berukir atau kubah bertatah kaligrafi. Kadang Ia hanya perlu satu lubang di langit-langit, dan hati yang bersedia duduk diam cukup lama untuk menyadari bahwa cahaya yang jatuh itu juga jatuh untuk orang di sebelahnya—yang mungkin sedang berdoa dengan bahasa yang berbeda, atau tidak berdoa sama sekali, hanya duduk mencari sunyi.
Ini yang saya sebut sebagai presencing dalam bahasa Scharmer, atau khusyu’ dalam bahasa yang saya warisi dari kampung halaman iman saya: keadaan ketika kebisingan diri diletakkan sejenak, dan yang tersisa hanyalah kesediaan untuk hadir penuh pada apa yang datang. Kapel ini tidak meminta saya menjadi kurang Muslim untuk bisa merasakannya. Ia justru mengizinkan saya menjadi Muslim yang lebih tenang—yang tahu bahwa keterbukaan bukan pengenceran iman, melainkan kepercayaan diri iman itu sendiri untuk berdiri di ruang yang tidak dirancang khusus untuknya, dan tetap menemukan Tuhan di sana.
Barangkali begitu pula cara terbaik memandang perjumpaan antar-iman di zaman yang gaduh ini: bukan mencari kesamaan dengan menghapus perbedaan, melainkan duduk berdampingan di bawah cahaya yang sama, membiarkan masing-masing membawa bahasanya sendiri untuk menyebut apa yang turun dari lubang itu. Ada yang menyebutnya nur. Ada yang menyebutnya rahmat, grace, atau sekadar keheningan yang menyembuhkan. Namanya berbeda-beda. Cahayanya sama.
Selamat pagi, selamat Ahad. Semoga ada satu lubang kecil di langit-langit hari kita hari ini, tempat cahaya bisa turun tanpa perlu kita beri nama dulu sebelum kita bersyukur atasnya.
Comments
Post a Comment