Doa yang Belum Sempat Diubah


Lebih dari satu dekade lalu, ketika Prabowo Subianto pertama kali turun gelanggang melawan Joko Widodo, ada gelombang doa yang mengalir deras dari jutaan bibir. Doa yang tulus, yang khusyuk, yang dipanjatkan di sepertiga malam dengan air mata dan sajadah basah. Ya Allah, jadikanlah Prabowo Subianto Presiden Republik Indonesia.

Allah mendengar. Allah selalu mendengar.


Hanya saja, Allah tidak terburu-buru.


Dua kali Prabowo melawan Jokowi. Dua kali pula ia pulang dengan tangan kosong. Para pendukungnya yang dulu berdoa dengan penuh harap, perlahan mulai menggeser posisi. Ada yang kecewa. Ada yang beranjak. Ada yang diam-diam mengganti jagoan. Sangat manusiawi — kita memang makhluk yang mudah bosan, mudah lupa, dan sangat mahir mengubah keyakinan tanpa merasa perlu mengumumkannya secara resmi.


Tapi doa? Doanya tidak ikut diubah.

Bukan karena lupa mencabutnya. Tapi karena memang tidak terlintas bahwa doa perlu diperbarui. Doa dianggap selesai ketika bibir berhenti bergerak. Padahal di sisi Allah, ia baru saja tercatat.


Dalam teologi Islam, doa yang dipanjatkan dengan sungguh-sungguh tidak menguap begitu saja ke langit kosong. Allah menjanjikan tiga kemungkinan: dikabulkan langsung, ditunda, atau diganti dengan yang lebih baik. Tidak ada opsi keempat yang berbunyi: “Diabaikan karena pemohon sudah berubah pikiran.”


Tidak ada notifikasi: “Doa Anda versi lama masih aktif. Apakah ingin diperbarui?”


Maka tibalah 2024. Prabowo Subianto menang. Dan di sinilah ironi itu menjadi sempurna: sebagian besar yang kini paling keras menghujatnya adalah mereka yang dulu paling keras mendoakannya.


Boleh jadi — dan ini hanya spekulasi teologis yang ringan — kemenangan Prabowo sebagian ditopang oleh akumulasi doa-doa lama yang belum sempat diubah. Doa-doa dari para mantan pendukung yang sekarang sibuk berteriak di kolom komentar, namun lupa bahwa sepuluh tahun lalu lidah yang sama pernah memohon dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan yang sama.


Allah mengabulkan doa versi lama mereka.


Sayangnya, orangnya sudah rilis versi baru.


Ada pelajaran sederhana di sini, walau mungkin terasa tidak nyaman.


Doa bukan sekadar luapan perasaan sesaat. Ia adalah pernyataan kehendak yang kita ajukan kepada Yang Maha Mengetahui. Maka selayaknya ia diperlakukan dengan kesadaran yang sama seperti ketika kita mengucapkannya. Kalau keyakinan kita berubah — dan itu hak kita sepenuhnya — maka doa kita pun perlu diperbarui. Bukan demi prosedur. Tapi demi kejujuran di hadapan Allah.


Dia cukup mencatat setiap doa — dan mengabulkannya ketika waktunya tiba.


Maka bagi siapapun yang dulu pernah berdoa untuk Prabowo, lalu kini mendapati dirinya gelisah setiap kali melihat berita dari Istana — ada baiknya berhenti sebentar. Duduk. Tenangkan diri. Lalu tanyakan satu pertanyaan sederhana:

“Doa saya dulu, sudah saya perbarui belum?”


Berdoalah dengan sadar. Karena Allah mengabulkannya dengan serius — termasuk doa yang sudah kita lupakan.

Comments