Bukan Pintu Utama


Catatan perjalanan dari Cambridge


Kata seorang kawan, mas Jalal — partner in crime yang sudah malang melintang di tanah Amerika lebih lama dari saya — “Bang Jay, kalau mau ke Harvard, jangan masuk dari pintu utama.”

Saya mengernyit. “Kenapa?”

“Nanti kelihatan turisnya.”


Saya tidak tahu apakah itu nasihat akademis atau nasihat gengsi. Tapi saya ikut saja. Sebab di negeri orang, pengalaman seseorang yang sudah pernah tersesat di sana jauh lebih berharga dari peta mana pun. Belakangan saya tahu, ada hal lain di balik petuahnya.


Maka saya masuk dari pintu samping. Sever Gate, di seberang pintu samping Museum. Pintu yang mungkin tidak ada fotonya di brosur. Pintu yang tidak ada influencer berpose di depannya dengan caption “Harvard-bound!” Dan justru dari situlah Harvard terasa berbeda.


Tidak ada kerumunan yang memaksa. Tidak ada dentuman keagungan yang sengaja dipanggungkan. Hanya jalan setapak bata merah yang sudah ratusan tahun menopang langkah orang-orang yang tidak tahu — atau belum tahu — bahwa mereka sedang mengubah dunia.


Saya jalan pelan. Seperti orang yang pura-pura tidak grogi.


Dan di sana dia duduk di ‘singgasananya’.


John Harvard.


Patung perunggu tua itu duduk dengan tenang di kursinya, seolah tidak peduli bahwa ribuan orang setiap hari datang hanya untuk memegang kaki kirinya. Tepatnya, sepatu kiri yang kelihatan lebih cemerlang daripada sepatu kanan — bukan karena semir, tapi karena usapan tangan. Jutaan tangan. Dari seluruh penjuru bumi.


Mas Jalal bilang, “Usap sepatu kirinya. Kata orang, bawa keberuntungan.”


Saya tahu ini bukan sunnah. Saya tahu ini bukan dalam Al-Qur’an. Tapi saya juga tahu bahwa niat adalah milik kita sendiri. Dan saya mengusapnya — bukan kepada perunggu itu, tapi sambil membisikkan sesuatu ke langit. 


Saya memulainya dengan basmalah dan shalawat. Ya Allah, suatu hari nanti, jadikan anak-cucuku berjalan di sini — bukan sebagai turis seperti babe atau engkongnya, tapi sebagai pelajar. Bukan untuk membuktikan sesuatu, tapi untuk memberi sesuatu.


Yang mengejutkan saya bukan patungnya. Yang mengejutkan saya adalah antrian-nya. Panjang. Rapi. Tertib seperti orang-orang yang sudah terbiasa mengantre untuk hal-hal yang benar-benar penting.


Ada keluarga dari Korea yang memakaikan topi wisuda plastik ke anak kecil mereka sebelum giliran tiba. Ada sepasang suami-istri dari entah mana, saling mengantre dengan wajah yang memendam cerita panjang. Ada rombongan pelajar yang selfie dulu, berdoa kemudian — atau mungkin sebaliknya, saya tidak tahu mana yang lebih dulu di dalam hati mereka.


Dan saya, orang Indonesia dari Jakarta, berdiri di antara mereka semua. Tiba-tiba dunia terasa sangat kecil dan sangat besar sekaligus.


Kecil, karena ternyata kita semua sama: orang tua yang bermimpi untuk anaknya, anak yang menanggung mimpi orang tuanya, individu yang diam-diam percaya bahwa pendidikan masih bisa mengubah nasib.


Besar, karena mimpi sebanyak itu — dari sekian banyak keluarga, sekian banyak bahasa, sekian banyak doa dalam tradisi yang berbeda-beda — semuanya terangkum dalam satu gestur sederhana: mengusap sepatu kiri dari perunggu seorang lelaki yang sudah tiga ratus tahun berangkat ke alam baka.


Saya tidak tahu apakah John Harvard sendiri akan tersentuh atau justru geli melihat pemandangan ini. Yang saya tahu: ketika saya melangkah pergi dari sana, ada sesuatu yang sedikit bergeser di dalam dada saya.


Bukan karena percaya pada patung.

Tapi karena baru saja menyaksikan kemanusiaan yang paling jujur: orang-orang yang mau antre, mau bersabar, mau merendah — hanya demi sebuah harapan untuk generasi yang bahkan belum tentu sudah lahir.


Saya kembali ke MIT dengan langkah yang lebih ringan.


Di hulu sungai Charles, orang-orang mengusap sepatu patung dengan penuh harapan. Di hilirnya, orang-orang merancang roket ke luar angkasa.


Tapi Charles River yang mengalir melintasi keduanya tidak membeda-bedakan. Ia tetap mengalir — tenang, konsisten, tanpa perlu tahu mana yang lebih prestisius.


Mungkin itulah yang sesungguhnya diajarkan Cambridge: bahwa hikmat dan teknologi bukan dua hal yang berlomba. Mereka hanya dua cara berbeda untuk bertanya hal yang sama — untuk apa kita di sini, dan apa yang akan kita tinggalkan?

Pertanyaan yang sama yang saya bisikkan tadi, ke langit, sambil mengusap sepatu perunggu seorang lelaki tua yang sudah lama dimakamkan.


Cambridge, Juni 2026

Comments