Sekolah Para Monyet (I)



Dalam beberapa pelatihan wirausaha terakhir yang saya pandu, saya selalu menayangkan sebuah video topeng monyet berdurasi sekitar 20 menit. Bukan hanya yang diperani dengan apik oleh Sarimin, tetapi juga oleh Whiplash, monyet koboi dari Amerika.

Dengan tayangan itu, sebenarnya saya hanya ingin mengatakan, "Monyet saja mampu berbisnis dan bisa cari uang sendiri sekaligus membantu tuannya cari makan. Mengapa kita manusia tidak bisa melakukannya?" Saya hanya ingin menyentuh bagian paling dalam setiap manusia. Nurani. Kalau ada manusia dewasa, sehat dan waras yang masih belum bisa mencari uang sendiri untuk kebutuhannya, pada hakikatnya ia sudah menempatkan dirinya lebih rendah daripada monyet.

Ini memang cara baru, dari perjalanan kehidupan saya, yang terus-menerus mencari cara terbaik dalam mendidik manusia, terutama yang sudah terjebak dan merasa nyaman dalam sebuah jurang profesi yang disebut pengangguran. Saya iri dengan Akademi Pelatihan Monyet di Surat Thani, Thailand. Di Akademi ini, setiap monyet dididik agar bisa memetik kelapa yang diinginkan pemiliknya. Gurunya hanya satu orang. Beliau biasanya disebut khruu (guru) Somporn. Tidak seperti akademi lainnya, khruu Somporn tidak punya gelar akademis setinggi profesor, karena beliau hanya tamatan sekolah dasar. Hebatnya, kalau ada 10 ekor monyet masuk akademi itu, maka 10 monyet itu akan berhasil lulus dengan kualifikasi yang sama, sekalipun tidak pada saat yang bersamaan. Kalau ada 100 monyet yang mengikuti pelatihan, seluruhnya bisa lulus dengan kualifikasi yang sama. Tidak ada monyet yang lebih kompeten dibanding yang lain. Dengan kata lain, angka keberhasilannya nyaris 100 persen. Padahal, khruu Somporn tidak pernah menolak siswa. Tidak pernah memecat siswa. Dengan kesabaran penuh seperti yang diajarkan sang Buddha, ia mendidik para monyet sesuai amanah yang diberikan oleh para pemiliknya.

Saya juga iri dengan keberhasilan para guru yang mendidik calon pemain topeng monyet di Padepokan Prajamusti di Pandeglang. Untuk bisa diterima di sekolah ini, tidak ada kualifikasi kompetensi tertentu bagi calon siswa. Yang ada hanya syarat pembayaran. Asal induk semangnya membayar ongkos pendidikan, monyet pun bisa sekolah. Kalau tidak mati atau kabur, maka sang monyet dijamin bisa lulus dengan kualifikasi yang diinginkan. Di sini, angka keberhasilannya juga mencapai 100 persen. Setelah lulus dan dapat SIM (Surat Izin Manggung), harga monyet-monyet ini meningkat dari lima ratus ribu rupiah menjadi lebih dari tiga juta rupiah.

Ada pertanyaan yang selama bertahun-tahun belum saya temukan jawabannya secara pasti. Bahkan sampai kini, ketika tulisan ini ditulis. Kalaupun ada jawaban, jawaban itu bukan jawaban yang benar-benar tuntas. Pertanyaan itu masih menyisakan ruang untuk perubahan, atau perbaikan. Mengapa mendidik monyet 'lebih mudah' daripada mendidik manusia? Kalau boleh disebut keberhasilan, kemampuan kami mendidik dan mengentaskan pengangguran di Institut Kemandirian baru sampai level 40 - 70 persen. Bahkan di awal kegiatan beberapa tahun lalu, angka keberhasilan tidak bisa beranjak dari 30 persen. Dan harus kami akui, sampai kini belum pernah mencapai keberhasilan 100 persen.

Menilik dari apa yang dilakukan oleh Akademi Monyet di Surat Thani maupun Padepokan Prajamusti di Pandeglang, ada beberapa pelajaran penting yang sangat mungkin diterapkan pada pendidikan untuk manusia.

Di Surat Thani, para monyet dididik dengan disiplin ketat. Sang guru Somporn, percaya sekali dengan ajaran Sun Tzu, yang menyembelih seekor ayam jago untuk menakut-nakuti monyet. Ketika para monyet mulai bertingkah, beliau menyembelih seekor ayam di hadapan para muridnya. Dan, para monyet pun menghentikan pembangkangannya. Tak perlu menyakiti para monyet. Cukup ditakut-takuti, mereka pun jadi penurut. Hanya karena dua atau tiga kali menyembelih ayam jago.....

Di Padepokan Prajamusti, disiplin diterapkan dalam bentuk berbeda. Bunyi cemeti kerap kali terdengar kalau para pelatih sedang berinteraksi dengan para muridnya. Tapi itu hanya pada awal-awal pelatihan. Selanjutnya, hanya dengan teriakan atau gerakan mengangkat cemeti saja, para monyet sudah mengerti bahwa kelakuan mereka salah.

Comments

Post a Comment