Mi Tu


Seorang presiden yang tidak bisa berbahasa Inggris, akan menerima kunjungan seorang presiden negara adikuasa, bernama Bill Clinton. Tidak PD dengan kemampuannya berbahasa Inggris, presiden itu meminta penerjemahnya untuk diajari sedikit kalimat bahasa Inggris, paling tidak untuk saat-saat berjabatan tangan. Sang penerjemah mengajari hanya dua kalimat sederhana yang dilanjutkan dengan sedikit instruksi. Kalimat pertama, adalah ’How are you?’  Setelah bapak presiden mengucapkan kalimat itu, maka Mr. Bill akan menjawab dengan sepotong kalimat dalam bahasa Inggris.  Apapun jawabannya, jawab kembali dengan kalimat kedua.  ‘Me too!’  Ucapkan kalimat itu dengan nada agak tinggi dan wajah gembira.

Selama dua minggu sang presiden mengucap dan menghapalkan dua kalimat itu, sampai tiba waktunya Mr. Clinton tiba.  Sang presiden menunggu di bagian bawah tangga pesawat, dan tibalah saatnya berjabat tangan.  Agak nervous, sang presiden salah ucap.  Kata how berubah jadi who.

‘Who are you?’ kata sang presiden.

‘I am Hillary’s husband,’ kata Bill Clinton.

Sang presiden yang sudah mendapatkan kembali rasa percaya dirinya, menimpali dengan kalimat kedua yang diajarkan penerjemahnya.

‘Me Too!’ kata sang Presiden dengan suara agak tinggi.

Sampai di sini, cerita di atas saya akhiri.  Saya hanya ingin mengatakan bahwa betapa berbahayanya budaya Mitu.  Budaya meniru habis-habisan, begitu mendarah daging di negeri ini.  Kalau di televisi ada acara bagus dan ratingnya tinggi, televisi lain tinggal meniru aja sambil diperbaiki sedikit-sedikit.  Kalau ada tetangga jualan gado-gado dan laku, tetangganya serta-merta juga ikutan jualan gado-gado.  Kalau ada orang sukses jualan online, rame-rame belajar dan bikin seminar jualan online.  Betapa tidak kreatifnya ...

Comments