Erupsi Krakakoa

Sebagai kumpulan orang yang bergerak di bidang pertanian, kami sudah lama mendengar betapa tidak buruknya nasib pertanian dan petani kakao di Indonesia. Walaupun Indonesia menghasilkan sekitar 400.000 ton kakao, nomor 3 terbanyak di dunia, kita tak punya sejarah gemilang dalam produk-produk turunannya. Tapi tampaknya hal itu sedang berubah. Dan sebuah bisnis sosial bernama Krakakoa ada di tengah-tengah perubahan itu.

Organisasi ini termasuk muda, yaitu berdiri tahun 2014. Lebih muda lagi bahkan, apabila dihitung dari waktu ketika nama Krakakoa dipergunakan secara resmi, yaitu Oktober 2016. Tetapi, apa yang dilakukannya sangatlah penting bagi perkembangan pertanian kakao di Indonesia, yaitu dengan memerkenalkan pertanian organik kakao di Lampung, yang digabungkan dengan peningkatan kapasitas petani dalam budidaya dan pengolahan pascapanen, kemampuan memroduksi bar cokelat yang bercitarasa tinggi, serta perdagangan yang adil.

Krakakoa mulai dengan memberikan pelatihan selama dua bulan penuh kepada para petani kakao yang hendak menjadi mitranya. Materi utama pelatihan itu ada dua, yaitu metode pertanian organik dan praktik pertanian yang baik. Setelah lulus dari pelatihan intensif itu, para petani dibekali dengan berbagai peralatan yang memadai, selain akses peningkatan kapasitas secara kontinum dari para pelatih.

Buah kakao yang bermutu tinggi kemudian dipilih yang sudah masak, dipastikan yang tak mengandung penyakit, lalu diambil bijinya untuk proses fermentasi. Proses fermentasinya bisa mencapai 7 hari, dan hasilnya adalah rasa dan aroma yang menguat, dengan tingkat kepahitan yang menurun. Pengeringan yang dilakukan setelahnya dilakukan dengan alami, yaitu dengan matahari, untuk memastikan tidak berkurangnya rasa (yang biasanya terjadi lantaran pengeringan dengan mesin).

Proses berikutnya adalah sortasi, lalu roasting yang semakin menguatkan aroma dan rasa, baru kemudian dipecahkan, digiling dan dihaluskan, lalu dicetak,

disolidifikasi, lalu dibungkus dengan kertas bermotif batik yang distingtif. Hasilnya adalah produk cokelat yang bermutu tinggi, yang dibuktikan dengan perolehan penghargaan internasional dari Academy of Chocolate. Enam penghargaan telah didapat hingga 2017, yang membuktikan bahwa produk cokelatnya memang masuk kategori fine chocolate, yang berbeda dari cokelat produksi massal.

Ini membuktikan bahwa kakao dari Indonesia sesungguhnya punya potensi untuk diolah menjadi produk cokelat bermutu tinggi yang mampu bersaing di tingkat internasional. Namun, lantaran Krakakoa adalah sebuah bisnis sosial, hal yang paling menarik dari apa yang sudah dicapainya adalah tentang dampaknya terhadap para petani kakao di Lampung yang menjadi mitra produksinya.

Sudah disadari sejak lama bahwa ada empat isu utama terkait pertanian kakao di Indonesia. Pertama, produktivitas yang rendah. Kedua, kualitas hasil panenan yang rendah dan tidak difermentasi. Ketiga, sebagai hasil kedua isu tersebut, pendapatan petani menjadi rendah pula. Keempat, lantaran pendapatan yang rendah, para petani cenderung meluaskan lahan, termasuk dengan cara membuka hutan.

Dari apa yang dilakukan oleh Krakakoa, kita menjadi tahu bahwa pemecahan masalahnya sebetulnya bisa dicapai, dengan hasil yang mengagumkan. Krakakoa, memberikan pelatihan dan peralatan gratis, mengajarkan petani untuk melakukan fermentasi, membeli hasil fermentasi petani pada tingkatan harga dua kali lipat yang selama ini diterima, memastikan bahwa pertanian berkelanjutan terus dilaksanakan, dan menegakkan rantai pasokan yang terintegrasi. Kini, sudah 250 petani yang secara merata menikmati peningkatan produktivitas, peningkatan kualitas hasil fermentasi, dan peningkatan pendapatan yang signifikan.

Di balik seluruh kisah yang membuat petani kakao di Lampung menjadi meningkat kesejahteraannya dan kakao Indonesia melambung popularitasnya itu adalah Sabrina Mustopo. Perempuan kelahiran Jakarta 34 tahun lalu itu sudah meninggalkan Tanah Air sejak berumur 4 tahun. Tetapi, setelah menempuh pendidikan di Universitas Cornell dan berkarya selama 6 tahun di konsultan terkemuka, McKinsey, dia melabuhkan hatinya untuk membangun pertanian di Indonesia. Di Cornell, dia memang belajar pertanian dan pengembangan pedesaan.

Kalau di tahun 1883 wilayah Indonesia menjadi sangat terkenal lantaran letusan Krakatau atau Krakatoa; 134 tahun kemudian negeri ini menjadi perhatian lantaran ‘erupsi’ Krakakoa, sebuah bisnis sosial yang meningkatkan kesejahteraan petani kakao sekaligus menghasilkan cokelat bermutu tinggi. Dengan kebaikan seperti yang sudah ditunjukkan, tentu kita berharap erupsi Krakakoa akan semakin dahsyat.

Telah dimuat di harian Kontan, 05 04 2018

Saya tulis artikel ini bersama mas Jalal – Pendiri dan Komisaris Perusahaan Sosial Wisesa


Comments