Belajar dari Kampung Coklat

Ada satu pertanyaan besar di dalam kepala, ketika pada suatu masa salah satu di antara kami bertandang ke Belgia, di akhir 1996. Bagaimana mungkin sebuah negeri kecil (kalah luas dari Jawa Tengah) seperti Belgia, bisa menjadi produsen produk coklat terbaik sekaligus terbesar di dunia?

Negeri empat musim di Eropa Barat seperti Belgia dan Belanda, kurang cocok untuk tanaman kakao. Dan sejatinya, memang sulit mencari perkebunan coklat di sana. Kakao hanya bisa tumbuh dan berproduksi optimal di negeri tropis seperti Indonesia, Ghana atau Pantai Gading. Tiga negara yang disebut terakhir, adalah tiga negara produsen kakao terbesar di dunia. Sayangnya, ketiga negara ini mengekspor kakaonya ke Eropa dan Amerika, yang mampu mengolahnya menjadi produk dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi. Di sisi lain, para petani di negeri penghasil kakao itu, harus rela menerima harga yang rendah dari pembelinya. Sama seperti harga bahan mentah lainnya.

Fakta itu cukup membuat geram. Dan kegeraman itu sempat ditumpahkan di Lhokseumawe, ketika selama tiga hari salah satu di antara kami diminta mengisi lokakarya di sana. Sebagian peserta adalah para petani kakao yang menjual hasil kebunnya ke Medan, dengan harga jual yang dipatok oleh para tengkulak di sana. Sempat terlontar himbauan kepada anak-anak muda di Lhokseumawe ini untuk memberanikan diri merantau ke Belgia. "Kalau perlu, menikahlah dengan putra-putri produsen coklat di sana, dan curilah ilmu coklat dari mereka!" Demikian provokasi yang disampaikan.

Perlu waktu sekitar satu dasawarsa untuk mengubah kegeraman itu menjadi optimisme. Itu terjadi setelah baru-baru ini kami mengunjungi Kampung Coklat, di Blitar. Setelah melihat dari dekat operasional kampung wisata edukasi ini, tanpa ragu kami menyebutnya sebagai bisnis sosial walaupun Pak Kholid Mustofa, sang pendiri, sama sekali tidak mengerti terminologi ini. Kampung Coklat adalah perwujudan harapan untuk merebut kembali hak ekonomi masyarakat Indonesia, sebagai produsen terbesar ketiga kakao dunia.

Pada awalnya, Pak Kholid adalah peternak ayam yang bisnisnya redup akibat flu burung di awal tahun 2000. Selain usaha ayamnya, ia juga memiliki lahan tanaman kakao milik keluarga yang kurang terawat. Di saat usahanya jatuh, hasil kebun kakao itu menjadi penyelamat ekonomi keluarga. Sejak itulah ia menekuni kebun kakaonya.

Tak cukup sampai di situ, ia pun mendirikan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Guyub Santoso, yang menampung hasil panen kakao petani anggotanya untuk dijual kepada produsen coklat. Dengan adanya Gapoktan ini, para petani beroleh harga jual yang lebih tinggi. Gapoktan menjadi jembatan antara petani kakao dengan produsen coklat, sekaligus memperpendek rantai pemasaran, sehingga pada akhirnya petani mendapatkan harga yang lebih tinggi daripada menjual kakaonya kepada tengkulak.

Secara perlahan, Gapoktan ini melakukan pengembangan usaha, yang mengolah kakao menjadi produk yang siap konsumsi. Titik cerah mulai tampak setelah Gapoktan ini meluaskan model bisnisnya menjadi Kampung Wisata Edukasi.

Di atas lahan seluas 5 hektar, Kampung Coklat ditata apik dengan beberapa wahana seperti tempat permainan anak, kolam ikan, lokasi edukasi pengolahan coklat dan lahan perkebunan coklat. Untuk para pengunjung, sebuah toko buah tangan yang cukup luas juga menyediakan aneka produk olahan coklat, titipan warga sekitar. Untuk standardisasi produk dan citarasa, para warga tersebut mendapatkan pelatihan dan pendampingan oleh para ahli di Kampung Coklat, sampai produk mereka layak jual.

Melengkapi kebutuhan edukasi, saat ini juga tersedia mini-bioskop yang menayangkan film sejarah percoklatan di dunia, sekaligus metode pengolahan coklat sampai bisa dinikmati konsumen. Untuk kebutuhan konsumsi ribuan pengunjung yang datang setiap harinya, di lokasi ini juga tersedia kafetaria yang seluruh makanan dan minumannya dipasok oleh warga sekitar. Di situ, para pengunjung juga bisa belajar membuat aneka penganan dari coklat, yang hasilnya bisa dinikmati sendiri atau dibawa pulang sebagai buah tangan.

Keberadaan Kampung Coklat di Desa Plosorejo, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar, ternyata mampu mengubah profil desa yang semula sarat penganggur menjadi produktif. Kini, tak kurang dari 400 warga yang dipekerjakan di sini. Belum termasuk warga perumahan sekitar yang mengelola lahan parkir untuk segala jenis kendaraan pengunjung.

Ribuan pengunjung setiap hari datang ke kampung wisata ini. Bahkan di Hari Raya Idul Fitri 1438 H, rekor pengunjung menembus angka 14.000 orang. Ini berarti rejeki besar untuk Kampung Coklat yang menarik tiket masuk Rp5.000 per orang. Juga pemasukan bagi para pemasok makanan dan minuman serta pengelola lahan parkir. Dan tak kalah penting, juga menambah pendapatan daerah lewat retribusi. Pengunjung senang, pengelola senang, pemerintah juga senang. Masyarakat kembali menjadi pemenang. Itulah hasil bisnis sosial yang gemilang.

Telah dimuat di harian Kontan, 28 09 2017

Saya tulis artikel ini bersama mas Jalal - Pendiri dan Komisaris, Perusahaan Sosial WISESA

Comments