Belajar Bisnis Sosial – Bagian Kedua dan Dua Tulisan

Seperti yang dijanjikan pada tulisan sebelumnya, kali ini akan dibahas bagian kedua dari silabus mata kuliah tentang bisnis sosial. Bagian kedua silabus itu dimulai pada minggu keenam dengan systems thinking, model untuk melihat konsep-konsep feedback loops, hubungan kausalitas, dan interaksi manusia. Apabila para pebisnis sosial memang ingin melakukan perubahan pada level sistem dan memengaruhi manusia-manusia yang terlibat di dalamnya, maka model berpikir ini harus dikuasai. Buku Peter Senge, The Fifth Discipline; dan Donella Meadows, Thinking in Systems adalah dua bahan paling penting. Dari buku pertama, para mahasiswa belajar tentang kausalitas, sementara dari sumber kedua terutama yang dipelajari adalah pembacaan peta sistem.

Untuk menggali data, pada minggu ketujuh diajarkan soal penelitian etnografis. Tujuan utamanya adalah untuk memberi tahu bahwa para desainer perubahan itu melakukan pengumpulan data utamanya dengan metodologi yang dikembangkan pada kajian etnografis. Dari data itu juga bisa dikembangkan model-model perubahan. Untuk mengajarkan ini, sumber pustaka yang dipergunakannya ada empat, namun mungkin yang terpenting adalah buku Tim Brown, Change by Design. Tim Brown berasal dari IDEO, yang terkenal dengan human-centered development. Pada pendekatan itu, desain sangat didasarkan pada pemahaman mendalam atas manusia yang menjadi pemanfaat akhir dari produk, jasa atau sistem yang hendak diciptakan.

Bagaimana cara mewujudkan visi organisasi—dalam hal ini tentu saja perusahaan sosial—dari berbagai sudut pandang adalah tema di minggu kedelapan. “A powerful vision of a new equilibrium is a key step for successful social entrepreneurship,” demikian yang dinyatakan pada pengantarnya. Buku yang sangat terkenal dari Alan Lafley dan Roger Martin bertajuk Playing to Win menjelaskan lima pertanyaan yang harus diajukan untuk menurunkan visi menjadi strategi pencapaiannya. Pertanyaan pertamanya sendiri terkait dengan aspirasi perusahaan, yang berarti semakin ambisius aspirasinya, semakin perlu juga strateginya menjadi komprehensif. Sementara, untuk menggambarkan sebuah aspirasi yang ambisius, contoh yang diberikan adalah pidato pendeta Martin Luther King, I Have a Dream.

Pada minggu kesembilan, yang dipelajari adalah proses design thinking. Ini adalah proses untuk menurunkan visi menjadi model perubahan. Design thinking memang bukan satu-satunya ang bisa dipergunakan untuk menjabarkan visi, namun dari banyak sekali tinjauan dari pakar, moda berpikir ini sangatlah unggul dibandingkan dengan yang lain. Artikel Tim Brown dan Roger Martin, Design for Action, yang diterbitkan di Harvard Business Review edisi September 2015, menjelaskan tentang bagaimana membuat desain untuk intervensi. Di situ dijelaskan pentingnya membuat prototipe terlebih dahulu sebelum meningkatkan skala intervensi. Dengan prototipe, para penerima manfaat awal bisa memberikan masukan kepada perusahaan sosial, sebelum benar-benar diluncurkan sepenuhnya.

Kalau kemudian peningkatan skala sudah diputuskan akan dilakukan, sebagai hasil dari keberhasilan prototipe, maka mekanisme untuk mengeksekusinya menjadi sangat penting. Ini menjadi pokok bahasan pada minggu kesepuluh dan kesebelas. Lagi-lagi tulisan Tim Brown menjadi rujukan penting. Kali ini adalah artikelnya yang berjudul From Blueprint to Genetic Code: The Merits of Evolutionary Approach to Design. Di situ dia menyatakan pentingnya untuk memikirkan bagaimana mewujudkan sebuah ide baru, bukan sekadar memikirkan substansi ide baru itu. Ide baru itu sendiri harus dilihat sebagai cara untuk meningkatkan manfaat perusahaan sosial untuk masyarakat. Untuk memahami bagaimana melakukannya, tulisan klasik Gregory Dees dan Beth Anderson, Scaling Social Impact, menjadi rujukan utama.

Minggu terakhir yang dibahas adalah bagaimana mengukur manfaat sosial yang telah diciptakan oleh perusahaan sosial tersebut. Di dalam pengukuran itu, tampak jelas bahwa yang disarankan untuk dimanfaatkan adalah metodologi Social Return on Investment (SROI). Tiga tulisan tentang metodologi tersebut dipergunakan untuk memberi pemahaman kepada para mahasiswa. Di antaranya, taklimat yang ditulis Malin Arvidson, dkk, The Ambitions and Challenges of SROI.

Dengan pengajaran seperti itu, bisa dibayangkan bahwa para peserta didiknya memang akan memahami bisnis sosial dengan komprehensif, dan sangat mungkin siapapun yang mendengarnya akan tertarik menjadi pebisnis sosial.

Telah dimuat di harian Kontan, 23 06 2016

Saya tulis artikel ini bersama mas Jalal - Pendiri dan Komisaris Perusahaan Sosial WISESA


Comments