Bisnis Berkelanjutan



Menarik membaca buku tulisan Thomas Piketty, ekonom muda berkebangsaan Perancis, dalam buku yang tebalnya lebih dari 700 hala
man, Capital in Twenty First Century, yang ditulis tahun 2013 (edisi bahasa Perancis berjudul Le Capital au XXIe si├Ęcle).


Buku ini menganalisis data perekonomian dunia selama kurang lebih tiga abad, utamanya soal pajak, yang menghasilkan beberapa kesimpulan.  Salah satunya adalah bahwa sepanjang sejarah manusia telah terjadi kesenjangan yang semakin lebar antara kaum kaya dan kaum papa, akibat akumulasi dan perputaran modal di satu pihak saja.


Piketty berhasil membuktikan adanya kesenjangan itu dengan olahan data time series sepanjang satu abad terakhir.  Ia menemukan bahwa pertumbuhan ekonomi (growth) yang bisa dinikmati kebanyakan kaum pekerja hanya 1-1,5 % per tahun, sementara hasil dari investasi (return on investment) yang hanya bisa dinikmati oleh pemilik modal tumbuh 4-5% per tahun.  


Pertanyaan yang menyentak pun muncul.  Mengapa seseorang yang bekerja dengan otot dan otaknya, harus mengalami kekalahan dan bertekuk-lutut dalam akumulasi pendapatan, oleh benda yang disebut UANG, selama berbilang abad?


Ketika kita belajar di sekolah menengah, bahkan di perguruan tinggi, kita kerap dicekoki dengan apa yang diberi nama Prinsip Ekonomi.  Bunyinya: “dengan modal sekecil-kecilnya, mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya.” 

 

Ideologi yang menjadi ‘beking’ prinsip itu adalah kapitalisme, yang mengharuskan modal tumbuh secepat-cepatnya, sekaligus sebesar-besarnya.  Konsekuensinya, korbanan jadi sangat banyak.  Karyawan dibayar murah, pemasok ditunda-tunda pembayarannya, perusakan lingkungan dan sebagainya.  Ideologi inilah, yang menjadi nyawa hampir semua bisnis yang ada di muka bumi saat ini.  Segala sumber daya yang dimiliki perusahaan, diarahkan sepenuhnya untuk mendapatkan keuntungan.


Penentangan terhadap ideologi kapitalisme ini, bukan tidak ada.  Karl Marx pernah melakukannya dengan ide sosialisme.  Juga beberapa yang lain. Tetapi, senyatanya kapitalisme masih tetap berkibar sampai saat ini, walaupun sudah mulai berevolusi.


Ide-ide sosialisme berikutnya, muncul tidak dalam bentuk penentangan head to head, tetapi menjadi bagian dari kegiatan bisnis. Mulai dari filantropi perusahaan, Corporate Social Responsibility hingga munculnya bisnis-bisnis yang secara terbuka menyebut dirinya sebagai bisnis sosial.   

 

Pada bisnis jenis ini, kita bertemu dengan seorang pemenang Nobel bidang perdamaian, yaitu Muhammad Yunus.  Menurutnya, tujuan pendirian perusahaan adalah untuk menyelesaikan beragam masalah yang dihadapi oleh masyarakat.  Untuk tujuan itu, beliau mendirikan Grameen Bank.  Bank untuk orang miskin, yang tidak mensyaratkan jaminan atas pinjaman yang diberikannya kepada nasabah.  Grameen Bank tidak bangkrut, tapi bahkan makin berkibar.


Dalam bisnis sosial, keuntungan bukan tujuan utama.  Keuntungan adalah salah satu sumberdaya yang dipergunakan untuk membantu penyelesaian masalah yang dihadapi masyarakat.   Harapannya, bisnis bisa berumur panjang karena masyarakat semakin percaya pada bisnis yang sedang dijalankan.

 

Al-Mukarram Yunus bahkan maju selangkah lagi dengan menerapkan zero dividen.  Artinya, berapa pun keuntungan yang didapat Grameen Bank dan lini usaha lainnya, tidak ada sepeser pun yang dibagikan kepada pemegang saham.  Seluruhnya direinvestasikan untuk kemanfaatan masyarakat.  Dengan demikian, terjadi pemerataan pendapatan di semua pemangku kepentingan yang terlibat dalam bisnis tersebut. 


Pertanyaan terakhir, apakah usaha yang lebih memikirkan kemanfaatan masyarakat daripada keuntungan perusahaan itu sendiri bisa bertahan lama?  Apa yang dialami Al-Mukarram Yunus, setidaknya bisa menunjukkan bahwa hingga saat ini Grameen Bank masih berdiri kokoh, bahkan berkembang ke lini usaha lainnya.


Bisnis sosial, semoga menjadi jawaban yang menenteramkan hati.  Data Piketty menunjukkan bahwa tingkat pendapatan dari para pemangku kepentingan yang terlibat dalam bisnis sosial, ternyata melebihi kenaikan yang dialami oleh para pemilik modal, yaitu 14,5 persen.  


Saya bahkan sampai pada satu kecurigaan yang positif.  Jangan-jangan, Allah menjadi penjaga bagi usaha-usaha yang memberikan prioritas bagi kemanfaatan masyarakat, melampaui harapan beroleh keuntungan bagi perusahaan semata-mata.  Jadilah bisnis sosial sebagai cikal bakal bisnis berkelanjutan.  Semoga …


Comments