Sebagai penulis, saya punya kekaguman besar pada Tan Malaka dan Pramoedya Ananta Toer. Kekaguman yang sedikit lebih kecil saya berikan pada Arswendo Atmowiloto. Ketiganya menulis di bawah tekanan yang membuat keluhan kita hari ini terdengar seperti lelucon.
Tan Malaka menulis sambil jadi buronan, dan bukan buronan satu pemerintah saja. Hindia Belanda, Inggris, hingga Amerika ikut mengincarnya, mungkin Filipina juga. Kalau sekarang orang mengeluh kurang referensi, Tan menulis Madilog nyaris tanpa buku di tangan dan pasti juga, tanpa perpustakaan. Beruntung, otaknya lebih tertata daripada hidupnya yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Ia menulis di penginapan murah, di kapal asing, mungkin juga di bawah ranjang saat mata-mata kolonial mengetuk pintu. Bandingkan dengan kita yang menunda menulis karena kursi kurang ergonomis.
Pramoedya Ananta Toer lebih sial. Tan masih bisa kabur, sedangkan Pram langsung diasingkan ke Pulau Buru, tempat menulis lebih berbahaya daripada demo. Kertas layak tidak ada, pena pun mencuri-curi. Yang ada hanya isi kepala yang harus menyimpan tiap ide cerita, seperti pelajar diuji tanpa boleh membuka catatan. Ia menulis di kertas bekas kantong semen, lalu menyelundupkan kisah-kisahnya keluar ‘kamp konsentrasi’ sampai karya itu bisa kita baca dengan leluasa hari ini. Kalau ada yang mengira menulis butuh "mood", Pram tahu inspirasi terbaik datang dari ancaman laras panjang, popor senjata, gencetan kaki meja atau derap sepatu lars para sipir. Kita menunggu mood datang dari suasana kafe yang pas dan playlist yang tepat.
Arswendo Atmowiloto hidup di zaman yang lebih bebas, tapi tetap tidak lepas dari hukuman. Bukan karena novelnya, bukan karena perlawanan politiknya, melainkan karena sebuah survei yang menempatkannya lebih populer daripada seorang Nabi. Hukuman datang dan ia masuk penjara. Apakah ia berhenti menulis? Tidak. Ia justru menulis jauh lebih banyak. Bagi Mas Wendo, waktu terlalu berharga untuk dihabiskan dengan bingung memilih kata pertama, keluhan yang sering kita dengar dari penulis pemula. Bukunya sendiri berjudul Mengarang Itu Gampang. Judul itu mungkin terdengar menyebalkan bagi yang sedang menatap layar kosong selama tiga jam, tapi ia menulisnya dari balik jeruji.
Sekarang mari kita periksa daftar alasan zaman ini. Sinyal lemot. Notifikasi berbunyi. Anak rewel. Algoritma tidak berpihak. Dan alasan terbaru yang paling modern: "Toh nanti ada AI yang menuliskan." Tidak ada satu pun yang menyebut kopel rim, laras panjang atau sipir penjara.
Yang membuat saya gelisah, kemudahan ini tidak menghasilkan lebih banyak tulisan. Perpustakaan ada di saku, ensiklopedia gratis, kertas tak terbatas, dan tak ada yang menodongkan senjata. Namun minat membaca kita rendah dan minat menulis lebih rendah lagi. Kita rajin membagikan tulisan orang, tapi jarang menyelesaikan tulisan sendiri. Kita mengaku suka buku, lalu membeli buku dan menjadikannya hiasan rak. Tumpukan buku yang belum dibaca itu bahkan punya nama keren di Jepang, tsundoku, seolah menimbun buku sudah sama dengan membacanya.
Barangkali kita perlu sedikit lebih menderita, atau setidaknya lebih malu. Malu pada Tan yang menulis sambil berlari, pada Pram yang menulis sambil dihajar sampai jontor dan pada Wendo yang menulis sambil dikurung. Ketiganya tidak punya kemewahan untuk menunggu mood. Mereka punya alasan yang jauh lebih sah untuk tidak menulis, dan tetap menulis.
Jadi kalau hari ini kita merasa buntu, coba tulis kalimat pertama sekarang juga, sejelek apa pun. Toh tidak ada sipir yang akan membacanya, dan tidak ada Nabi yang bisa tersaingi.
Comments
Post a Comment