Blog Terrorist
Kemandirian Mahasiswa
Jumat, 30 September 2011
Pekan ini adalah salah satu pekan tersibuk bagi saya. Sejak Senin sampai
Ahad, saya harus berpindah dari satu kota ke kota lain, melintasi
pulau-pulau se-antero Indonesia.Di sebuah kota di Sulawesi, saya mendapat kesempatan berbagi soal dunia
wirausaha dengan sekitar 1000an mahasiswa dan dosen dari berbagai
perguruan tinggi. Ada satu pribadi yang menarik perhatian saya. Rektor.
Awalnya, biasa saja. Beliau diminta untuk membuka acara seminar dua hari. Tapi kejadian berikutnya, membuat saya geleng-geleng kepala. Tidak seperti pejabat-pejabat lain, yang langsung hilang setelah seremonial, beliau tetap duduk di tempatnya sampai acara usai. Bahkan beliau sempat bernyanyi di saat istirahat, dengan suara yang lumayan merdu.
Di saat yang tepat, beliau juga sempat angkat bicara. Tidak out of topic. Beliau 'menantang' mahasiswanya untuk mengelola 180 hektar lahan yang nyaris tidur di kampus itu, untuk menjadi lahan produktif untuk pertanian, peternakan atau perikanan. Atau untuk usaha lain. Potensi besar yang selama ini disia-siakan.
Terus terang, saya menemukan banyak aha! Berulang-kali masuk-keluar kampus, dan saya sadar bahwa ada banyak hal yang bisa dilakukan mahasiswa selain demo protes untuk penurunan uang kuliah, dosen killer, militerisasi maupun korupsi. Tapi baru kali ini saya dengar seorang Rektor bicara langsung pada mahasiswanya. Tidak lewat media!
Ini sinyalemen saya soal mahasiswa, semoga salah. Jika ingin membuat kegiatan, biasanya mereka membuat proposal dan meminta bantuan alumni atau mencari sponsorship. Sangat tidak mandiri.
Alangkah indahnya, jika apa yang 'ditantang' oleh pak Rektor, bisa dilaksanakan. Sejak mahasiswa, mereka sudah mulai melaksanakan bisnis. Berbagai kegiatan bisa dilaksanakan atas biaya mandiri, tanpa ketergantungan pada pihak lain. Bahkan mereka bisa membiayai kuliah dan riset mereka sendiri, tanpa subsidi orang tua.
Sesaat setelah bicara demikian, gayung pun bersambut. Ada beberapa mahasiswa yang tertarik. Semoga ini adalah tebaran benih-benih kemandirian mahasiswa.
Zainal Abidin
Headmaster sekolahmonyet.com
Ketia Tim Pendiri akademi Kemandirian
Www.zainalabidin.net
(Sudah dimuat di Harian Semarang, 16 September 2011)
Awalnya, biasa saja. Beliau diminta untuk membuka acara seminar dua hari. Tapi kejadian berikutnya, membuat saya geleng-geleng kepala. Tidak seperti pejabat-pejabat lain, yang langsung hilang setelah seremonial, beliau tetap duduk di tempatnya sampai acara usai. Bahkan beliau sempat bernyanyi di saat istirahat, dengan suara yang lumayan merdu.
Di saat yang tepat, beliau juga sempat angkat bicara. Tidak out of topic. Beliau 'menantang' mahasiswanya untuk mengelola 180 hektar lahan yang nyaris tidur di kampus itu, untuk menjadi lahan produktif untuk pertanian, peternakan atau perikanan. Atau untuk usaha lain. Potensi besar yang selama ini disia-siakan.
Terus terang, saya menemukan banyak aha! Berulang-kali masuk-keluar kampus, dan saya sadar bahwa ada banyak hal yang bisa dilakukan mahasiswa selain demo protes untuk penurunan uang kuliah, dosen killer, militerisasi maupun korupsi. Tapi baru kali ini saya dengar seorang Rektor bicara langsung pada mahasiswanya. Tidak lewat media!
Ini sinyalemen saya soal mahasiswa, semoga salah. Jika ingin membuat kegiatan, biasanya mereka membuat proposal dan meminta bantuan alumni atau mencari sponsorship. Sangat tidak mandiri.
Alangkah indahnya, jika apa yang 'ditantang' oleh pak Rektor, bisa dilaksanakan. Sejak mahasiswa, mereka sudah mulai melaksanakan bisnis. Berbagai kegiatan bisa dilaksanakan atas biaya mandiri, tanpa ketergantungan pada pihak lain. Bahkan mereka bisa membiayai kuliah dan riset mereka sendiri, tanpa subsidi orang tua.
Sesaat setelah bicara demikian, gayung pun bersambut. Ada beberapa mahasiswa yang tertarik. Semoga ini adalah tebaran benih-benih kemandirian mahasiswa.
Zainal Abidin
Headmaster sekolahmonyet.com
Ketia Tim Pendiri akademi Kemandirian
Www.zainalabidin.net
(Sudah dimuat di Harian Semarang, 16 September 2011)
3405 pembaca ::