Blog Terrorist

C U K U P

Selasa, 04 Oktober 2011
Sore itu, di pelabuhan Ba'a, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, udara cerah. Untuk melepas penat setelah seharian berdiskusi dan berbagi dengan beberapa kelompok tani nelayan, saya berjalan menyusuri pantai.Saya menemui beberapa pedagang ikan, yang sedang mengemasi barang dagangannya. Saya pikir, ikan-ikan itu tidak laku dan akan kembali dijual esok hari. Di salah satu pedagang, saya melihat setumpuk gurita. Ingat ada seorang kawan yang bisnisnya mengekspor gurita ke mancanegara, iseng-iseng saya menanyakan harganya.

Satu hal yang saya suka di Rote. Orang-orangnya tidak pernah lupa tersenyum. Barisan gigi putihnya menambah keindahan senyum yang jarang saya temui di Jakarta. Jawabannya mengejutkan saya.

Gurita itu dijual hanya sepuluh ribu rupiah per kg. Dan ternyata keterkejutan saya tidak sampai di situ. Kalimat berikutnya lebih mengejutkan. Gurita ini tidak dijual, katanya. Jawaban ini memancing pertanyaan lanjutan.

'Apa gurita itu mau dimakan sendiri?' tanya saya. Dan jawabannya semakin mengejutkan saya. 'Tidak, bapak. Ini untuk dijual besok hari.'

Sebuah jawaban yang sama sekali tidak masuk di akal saya. Seorang pedagang menolak menjual produknya ketika produk itu sudah ditawar seseorang, hanya karena produk itu mau dijual esok hari.

Saya pedagang. Kalau saya berada pada posisi sang pedagang itu, saya tidak akan menunggu esok. Kalau harganya cocok, sore itu juga akan saya jual. Mengapa harus menunggu besok, dengan resiko produknya busuk atau sama sekali esok tidak ada yang berminat membeli.

Saya kembali bertanya. 'Kenapa harus menunggu besok?'

Jawaban akhirnya membuat saya harus merenung panjang. Perlu waktu berhari-hari untuk mencernanya. Jawabannya hanya satu kata. 'Cukup.'

Di dunia yang semakin materialistik, ternyata masih ada orang-orang yang bebas seperti ini. Ia tidak dikejar-kejar nafsu duniawi. Dia hanya mencari sesuai apa yang dia butuhkan.

Inilah sebuah kearifan lokal, warisan budaya para leluhur kita yang masih dipertahankan oleh sebagian masyarakat kita. Saya tidak ingin mengadilinya dengan kacamata hitam putih. Ini bukan soal benar dan salah.

Setelah merenung berhari-hari. Saya baru sampai pada memahami. Saya belum mampu melaksanakannya. Bagaimana dengan anda?

Zainal Abidin
Headmaster sekolahmonyet.com
Ketua Tim Pendirian akademi Kemandirian
Www.zainalabidin.net
3541 pembaca ::

Bagikan di facebook

Bang Jay udah di-follow orang loh!
 

Arsip

Pilih tahun dan bulan...