Blog Terrorist

Bukan Jalan-Jalan Biasa …….. (Survivor Diary by Dian Yuwiadi)

Rabu, 19 Oktober 2011
Jam 04.30 hari Rabu , lega rasanya sampai didepan rumah dan istri membukakan pintu…., 3 hari sebelumnya ternyata perjalanan yang penuh dengan derita dan penuh makna hidup.

Dimulai hari senen tanggal 10 Oktober pagi, ketika semua peserta sekolah monyet memulai perjalanannya dari Stasiun Gambir dengan 7 rekan-rekan peserta yang tidak saya kenal secara pribadi kecuali mengenal nama saja. Pak Kastolani yang seorang pengusaha Internet Marketing memprediksi perjalanan yang gak jelas tujuannya ini hanya berlangsung selama 2 hari, sementara yang lain memprediksi kita berkumpul di St Gambir hanya mengambil tugas dan langsung pulang.

Mendekati pukul 8 dan sebagian besar peserta sudah berkumpul prediksi awal perjalanan menjadi sirna ternyata benar kita semua akan melakukan perjalanan yang tidak biasa.

Perjalanan dimulai sekitar pukul 08.00 dengan menggunakan KA Argodwipangga, segera aku SMS istri kalau perjalananku menuju arah kota Solo, 15 menit perjalanan Bang Jay mempersilahkan peserta sekolah monyet untuk berpikir yang terakhir kali untuk melanjutkan perjalanan atau kembali di Stasiun berikutnya, ternyata kita ber 8 sepakat melanjutkan perjalanan.

Awal perjalanan terasa nikmat dengan fasilitas KA yang ekssekutif AC dingin ditambah dipersilahkan Bang Jay untuk memesan makanan sebagai sarapan pagi kali ini, sambil berseloroh saya berucap jangan-jangan ini sarapan pagi kita yang terakhir.

Menanti sarapan pecel ayam goreng, kami disuguhkan dengan daftar isian rencana usaha masing-masing kurun waktu 5 tahun kedepan dan kita disuguhkan dengan 2 buku karya Bang Jay. 1 jam isian saya selesaikan dan kawan-kawan semua mulai menyantap pesanan makanan masing-masing kecuali saya yang ternyata terlupakan( wah …. Pertanda nih)

Usai menyantap makan pagi tanpa diduga kita diminta mengumpulkan barang-barang berharga (HP, dompet berserta isi) hanya tersisa KTP dan Sim Card HP, sebelumnya kita diminta SMS ke 10 orang tentang tujuan kita semua. Aku SMS singkat dengan istri kalau perjalananku ke Kota Jogja dan HP saat ini dikumpulkan ke Bang Jay.

Shock sebentar dirasakan pada awalnya, bahkan temanku Kusni sempat mencubit pipi apakah ini benar terjadi atau mimpi.

Tiket perjalanan KA Agrodwipangga akan berakhir di Kota Jogja dan saya akan turun di kota Cirebon, kota berikutnya adalah Purwokerto terserah kalian akan turun dimana dan tugas kalian adalah kembali ke Jakarta Hari Jumat tanggal 14 Oktober 2011 pukul 13.00 begitu instruksi dari Bang Jay

Kepanikan kecil terjadi di dalam KA, saya berusaha tenang tapi takut juga melakukan perjalanan yang tidak biasa ini….

Disepakati tim sekolah monyet dipimpin oleh anggota yang paling muda Kusni Zaenal karena menurut Bang Jay kalau diberikan pada anggota yang paling tua (Aku sendiri) bisa berakibat fatal pada kesehatanku.

Beberapa kali aku mengalami perjalanan yang sulit mungkin ini merupakan perjalanan yang paling rumit, karena kita melakukan perjalanan dengan cara dimiskinkan secara paksa. Satu yang dipikirkan adalah saya harus pulang apapun yang terjadi.

Dengan gaya berlagak tenang aku berusaha mencari peluang mulai di KA, aku berjalan ke gerbong Restorasi sebagai target pertama bicara dengan kepala perjalanan untuk bisa mencari pekerjaan sebagai apapunyang penting dapat upah untuk pulang, alhasil ternyata restorasi tidak menggunakan banyak barang yang harus dicuci dan tenaga yang adapun harus dikurangi kesimpulannya gagal..

Kembali ke tempat duduk setelah sholat Dzuhur aku memikirkan rencana berikut coba aku susun, rencana mencuci mobil travel kerabat bisa jadi alternatif, atau usaha lain yang halal kemudian.

Jam 17.30 semua tiba di St Tugu Jogyakarta, aku sempatkan untuk bertanya harga tiket ke Jakarta dari tiket termurah yaitu KA Gaya Baru Malam sebesar Rp. 28.000 sebagai targetku agar dapat pulang ke Jakarta. Rencana awal bekerja dalam kelompok ternyata tidak sesuai, Tamara dan Elyana berpendapat lain dengan yang lain dan akhirnya kita berpisah dalam tujuan masing-masing.

Kami kelompok laki-laki terdiri Bp Kastolani,Bp Iwan,Kusni,Bayu,Bp Hendra dan aku Dian sepakat untuk mulai dari Masjid DPRD Jogyakarta, dengan sholat Magrib.

Usai sholat magrib perjalanan dilanjutkan dengan mencoba melihat peluang yang ada ternyata untuk mengumpulkan ongkos pulang tidak mudah berusaha menawarkan jasa parkir ternyata semua tukang parkir sudah berseragam dan ongkos parkir hanya Rp. 500,- mau dikumpulkan berapa lama supaya bisa beli tiket pulang wah susahnya…..

Sampailah perjalanan melelahkan di ujung alun-alun setelah pasar beringharjo, Pak Kasto, Pak Iwan dan Pak Hendra berencana istirahat di alun-alun sambil mencari sesuatu. Aku tidak sepakat karena aku harus menuju rumah kerabat tujuanku di Taman Siswa, aku tawarkan kalau ada kawan yang hendak bergabung dan hasil Kusni dan Bayu bergabung denganku sedikit aku bertanya kalau aku tidak memaksu mereka untuk ikut.

Perjalanan ke Taman Siswa masih cukup jauh, karena tidak adalagi biaya perjalanan dilanjutkan dengan jalan kaki.

Sekitar pukul 20.00 aku tiba dirumah kerabat orang tua Bp Sunarto, alhamdulilah beliau ada dirumah ditemani putrid beliau Wikan, setelah membicarakan maksud dan tujuanku ke Jogya yang setelah diterangkan ternyata mereka juga tidak mengerti akhirnya aku menumpang di pavilion rumahnya.

Memasuki rumah paviliun secara kebetulan di situ masih tersisa beras perangkat masak dan sedikit garam, alhasil kita masih bisa hidup untuk beberapa hari berbekal Mie Instan pemberian Bang Jay.

Mandi dan mempersiapkan makan malam minimalis adalah acara berikutnya, seumur hidup belum pernah aku makan mie instant satu bungkus bertiga diberi kuah yang banyak dengan ditambah sedikit garam supaya makan ada rasanya he he  kacian cih.

Terpikir oleh Kusni dan Bayu tidak mengira kalau malam pertama di Jogyakarta masih bisa tidur tenang di atas kasur karena pikir mereka akan tidur di pinggir jalan. Kusni sempat cerita kalau ia hanya ijin 2 hari kalau lebih barangkali akan kena kartu merah dari perusahaan. Kusni merupakan anak yatim tertua dari 4 bersaudara dan dalam keluarganya dia menjadi tumpuan ekonomi keluarga. Karena lelah selama perjalanan sehari akhirnya kami tertidur.

Selasa, 11 Oktober 2011, dinihari kebiasaan sholat tahajud sudah agak lama aku tidak lakukan pada malam itu kayaknya ingin aku lakukan mata berusaha dipejamkan tapi semakin kuat keinginan untuk melaksanakan. Sekitar jam 03.00 terbangun untuk sholat tahajud diakhir sholat kuat keyakinan untuk pulang esok hari jika kemungkinan memperoleh pekerjaan tak kuperoleh dengan tidak lupa memohon kepada Allah untuk dimudahkan atas segala urusan yang sedang aku lakukan. Selesai sholat menunggu waktu subuh makin tidak bisa tidur barangkali karena cemas tidak bisa pulang akhirnya aku isi dengan menyusun ringkasan perjalanan tidak biasa ini.

Pagi jam 07.00, disepakati mencari peluang usaha disekitar Malioboro sekalian mencari 3 rekan kita Pak Kasto,Pak Iwan dan Pak Hendra yang malam kemaren berada di situ. Setelah menyisir jalan Malioboro sampai dengan jalan Mangkubumi tak satupun teman tadi malam disekitar situ, pikiran mereka telah memperoleh dana untuk pulang. Akhirnya karena tidak adalagi peluang yang bisa diperoleh maka saya beranikan diri ke Travel Diana di Jalan Mangkubumi untuk pesan tiket pulang dengan syarat dibayar dirumah, belakangan ternyata kalau orang gak punya uang tidak dipercaya sehingga sampai malampun saya tidak dijemput, gagal lah saya pulang pada hari ke 2.

Kembali setelah memesan Travel yang tidak dijemput saya dan Kusni dan Bayu menyusuri jalan Malioboro melewati Hotel Ina Garuda, Bayu bilang disini kita bisa mendapat pekerjaan tapi tidak tahu bagaimana caranya. Cuaca makin panas di Malioboro, sejenak istirahat dekat kantor gubernur, sambil duduk numpang baca Koran, bertemu dengan orang yang tidak pernah dikenal sebelumnya belakangan dia bernama Beny, pembicaraan awal yang menarik menanyakan tentang tujuan kita bertiga ke Jogya, setelah kita jelaskan ada hal yang menarik dalam pembicaraan kita dengan bung Beny, pertama adalah usaha itu bukan sebuah hal yang ditanyakan tetapi usaha adalah sesuatu yang harus dilakukan, kedua, menjadi pengusaha itu tidak selalu diawali dengan kemiskinan dan menderita dan dia mengatakan bahwa kita bertiga ini adalah goblok, yang ketiga kita terbiasa dengan sesuatu yang munafik, melarang sesuatu ternyata sesuatu itu ada disekitar kita. Pembicaraan semakin menarik mata saya berusaha mencari kamera tersembunyi dengan pikiran jangan-jangan ini orangnya Bang Jay yang mengorek diri kita seperti acara-acara reality show di TV, cape mencari ternyata gak ada kameranya.

Singkat waktu kita kembali ke Taman Siswa sampai jam 11.00, perasaan lemas cape dan pasti lapar bertiga saat itu memutuskan pulang nanti malam dengan cara pinjam dana dengan kerabat.

Sampai depan pintu rumah Bp. Sunarto memanggil memberitahu kalau istri beliau mencari kita bertiga. Setelah memasak nasi dan mie instant dengan resep khusus istri Bp. Sunarto dating menyampaikan kalau di Hotel Ina Garuda membutuhkan tenaga Casual (serabutan) sebanyak 2 orang sampai tanggal 13 Oktober 2011, mendengar berita itu kaget sambil mau nangis akhirnya kita dapat pekerjaan yang hasilnya bisa untuk bekal pulang teringat doa tadi malam memohon dimudahkan segala urusan . Untuk 1 shift pekerjaan 1 orang dihargai Rp.33.000 + 1 x makan dan dari hitungan pekerjaan 1 ˝ hari kedepan saya bertiga paling tidak memperoleh uang Rp 196.000, cukup untuk pulang ke Jakarta.

Ternyata Allah tidak langsung mengangkat kesulitan kita bertiga, untuk bisa melaksanakan tugas di Hotel Ina Garuda kita harus punya seragam minimal celana panjang hitam dan sepatu hitam, sementara kita bertiga hanya punya 1 set celana hitam dan sepatu coklat kehitaman ala maak masih aja cobaannya. Tetap semangat demi pulang ke Jakarta, dengan modal pinjaman Rp 20.000 kita berusaha melengkapi kostum yang diminta dengan membeli barang bekas di pasar beringharjo jalan kaki pula capenya…….

Berputar 4 jam dipasar beringharjo yang dicari tidak diketemukan akhirnya ke lantai dasar bertanya ke Satpam dan diketahui kalau mbok yang pedagang sepatu bekas ada di pojok pasar lantai 3 paling belakang semangat…….

Jam 16.00 kita kembali ke Taman Siswa membawa perlengkapan sepatu dan celana hitam, masih sisa uang bolehlah kita mencicipi minuman dengan es batu eh ternyata sebelum masuk rumah dihalaman bp sunarto ada pohon buah lemon yang bisa kita minum menghilangkan dahaga……

Semangat kembali timbul untuk bekerja keinginan pulang harus ditunda untuk mencari uang di Ina Garuda Hotel…..kayaknya malam ini tidur mulai tenang dan bisa mimpi sedikit indah karena malam ini masih sempat menyaksikan pertandingan bola Indonesia melawan Qatar. Jam 22.00 karena cape senang dan gelisah tertidur juga.

Hari Rabu jam 03.00, kembali terbangun melaksanakan tahajud sembari bersyukur atas campur tangan Allah hingga hari ini saya dan teman-teman dapat mencari dana di Hotel Ina Garuda.

Jam 06.00 kita bertiga telah siap ke hotel Ina Garuda hotel dengan motor pinjaman pak sunarto kita berangkat ke Hotel Ina Garuda untuk bekerja paruh waktu sebagai tenaga kasar di dapur, angkat-angkat, cuci-cuci dan gak boleh diem sampai shift 1 selesai.

Shift 1 selesai pukul 15.00, aku mohon diri untuk ijin pulang lebih awal ke Jakarta dengan uang Rp. 33.000 niat awal pulang dengan KA Gaya Baru Malam jam 19.00 tetapi dengan pinjam HP wikan putri pak Sunarto saya hubungi bp Hartono yang saya kenal 3 tahun yang lalu saya menumpang Travel beliau untuk pulang ke Jakarta dengan bayar di Jakarta, tanggapan positif diterima dan saya dijemput jam 16.30 di Taman Siswa.

Jam 17.00 Travel pak Hartono belum dating cemas lagi deh dan kemungkinan gak jadi pulang tapi alhamdulilah jam 17.30 dijemput juga yesss aku pulang. Sisa mie instant terakhir aku sisakan untuk 2 teman yang masih akan pulan esok. Dengan berpamitan Bp Sunarto saya pulang ke Jakarta

Allah ternyata sayang dengan diriku yang telah menderita 3 hari di Travel aku dapat kursi istimewa di bangku tengah yang lebar dan tidak ada penumpang lain wuenaaak tenan. Jakarta I am coming…….

Sampai Karanganyar Travel istirahat dan aku kebelet pipis, tapi gimana ya uang tak ada ………..

Perjalanan di lanjutkan menuju Jakarta, walaupun tempat duduk terasa enak tapi sempat berpikir kalau malam hari ada sweeping Densus 88 yang sedang cari teroris bukan gak mungkin aku pasti ditanya karena aku hanya berbekal Foto Kopi KTP yang gak kebaca, atau berpikiran juga dengan kejadian kecelakaan Istri pedangdut Saepul Jamil yang duduk dibelakang Pengemudi meninggal karena tabrakan, menghindari identitas yang gak kebaca aku tulis nama lengkap ku dan alamat serta nomor HP istri ku biar kalau ada apa-apa (amit-amit) diriku dikenalah.

Alhamdulilah jam 03.00 pagi hari Travel sudah masuk Tol Cikampek sinar bulan purnama sisa perjalanan semalam masih tampak dan tol Cikampek belum ramai persis jam 04.30 sampai dengan selamat didepan rumah dan ketemu dengan istri tercinta mengakhiri perjalanan yang tidak biasa ini …………………….

Terima Kasih Bang Jay yang telah memberi pengalaman pertama sebagai murid sekolah monyet dengan terror otaknya memang bukan perjalanan biasa

                                                                                      Dian Yuwiadi

 

2867 pembaca ::

Bagikan di facebook

Bang Jay udah di-follow orang loh!
 

Arsip

Pilih tahun dan bulan...