Blog Terrorist
Jual Mentah Beli Matang
Senin, 17 Oktober 2011
Ini masih pengalaman di Rote Ndao. Pagi itu saya duduk-duduk di depan
hotel tempat menginap. Jangan bayangkan hotel itu seperti hotel-hotel
umumnya di kota besar. Di sini hotel adalah rumah yang disulap untuk
difungsikan sebagai tempat menginap.
Beberapa petani melintas di depan hotel dengan membawa hasil taninya seperti rumput laut, kelapa, buah lontar atau pisang. Buah terakhir mengingatkan saya pada cerita Fernandes, tukang ojek yang setia mengantar saya ke banyak tempat di sekujur pulau Rote.
Ceritanya menarik. Sebagian besar petani yang menjual pisangnya ke pasar, biasanya mampir untuk membeli pisang goreng sebelum pulang. He he he. Keanehan apalagi, pikir saya. Para petani itu menjual bahan mentah, kemudian membeli produk siap konsumsi dari bahan mentah yang dijualnya.
Apa pendapat anda? Beberapa kawan yang saya tanyakan kejadian seperti ini menyatakan bahwa itu perbuatan bodoh. Yang lainnya meyebut lucu atau aneh. Harga bahan mentah, relatif murah. Setelah digoreng, harganya bisa meningkat cukup signifikan. Mengapa tidak melakukannya sendiri? Menyisakan pisang yang ada, membeli tepung dan bahan lainnya kemudian melakukan pengolahan hingga menjadi pisang goreng?
Memperhatikan reaksi mereka, saya tersenyum kecut. Kebodohan, kelucuan atau keanehan macam itu juga 'kita' lakukan dalam skala yang lebih besar. Besar jumlah produknya, besar nilai rupiahnya, besar pula jumlah orang yang terlibat di dalamnya!
Kita adalah sebuah negara penghasil minyak bumi. Sayangnya, kita menjual seluruh minyak mentah yang kita hasilkan ke luar negeri. Harganya relatif murah karena masih berupa bahan mentah. Supaya dinilai hebat kita menyebut proses itu sebagai ekspor. Kita mengekspor minyak mentah ke luar negeri.
Setelah diolah sedemikian rupa di luar negeri, minyak mentah kemudian berubah menjadi berbagai derivat produk seperti bensin, solar, minyak tanah atau oli. Dan kita membeli produk-produk jadi atau setengah jadi itu, dengan harga yang jauh lebih mahal. Persis seperti perilaku menjual pisang, lalu membeli pisang goreng.
Sampai kapan kita terus melakukan kebodohan, keanehan sekaligus kelucuan seperti ini?
Zainal Abidin
Ketua Tim Pendirian Akademi Kemandirian
Www.zainalabidin.net
Beberapa petani melintas di depan hotel dengan membawa hasil taninya seperti rumput laut, kelapa, buah lontar atau pisang. Buah terakhir mengingatkan saya pada cerita Fernandes, tukang ojek yang setia mengantar saya ke banyak tempat di sekujur pulau Rote.
Ceritanya menarik. Sebagian besar petani yang menjual pisangnya ke pasar, biasanya mampir untuk membeli pisang goreng sebelum pulang. He he he. Keanehan apalagi, pikir saya. Para petani itu menjual bahan mentah, kemudian membeli produk siap konsumsi dari bahan mentah yang dijualnya.
Apa pendapat anda? Beberapa kawan yang saya tanyakan kejadian seperti ini menyatakan bahwa itu perbuatan bodoh. Yang lainnya meyebut lucu atau aneh. Harga bahan mentah, relatif murah. Setelah digoreng, harganya bisa meningkat cukup signifikan. Mengapa tidak melakukannya sendiri? Menyisakan pisang yang ada, membeli tepung dan bahan lainnya kemudian melakukan pengolahan hingga menjadi pisang goreng?
Memperhatikan reaksi mereka, saya tersenyum kecut. Kebodohan, kelucuan atau keanehan macam itu juga 'kita' lakukan dalam skala yang lebih besar. Besar jumlah produknya, besar nilai rupiahnya, besar pula jumlah orang yang terlibat di dalamnya!
Kita adalah sebuah negara penghasil minyak bumi. Sayangnya, kita menjual seluruh minyak mentah yang kita hasilkan ke luar negeri. Harganya relatif murah karena masih berupa bahan mentah. Supaya dinilai hebat kita menyebut proses itu sebagai ekspor. Kita mengekspor minyak mentah ke luar negeri.
Setelah diolah sedemikian rupa di luar negeri, minyak mentah kemudian berubah menjadi berbagai derivat produk seperti bensin, solar, minyak tanah atau oli. Dan kita membeli produk-produk jadi atau setengah jadi itu, dengan harga yang jauh lebih mahal. Persis seperti perilaku menjual pisang, lalu membeli pisang goreng.
Sampai kapan kita terus melakukan kebodohan, keanehan sekaligus kelucuan seperti ini?
Zainal Abidin
Ketua Tim Pendirian Akademi Kemandirian
Www.zainalabidin.net
3416 pembaca ::